Jumat, 01 Desember 2017

Hijrahnya Nabi Muhammad ke Habsyi, Thaif, dan Yastrib

MAKALAH
Hijrahnya Nabi Muhammad ke Habsyi, Thaif, dan Yastrib
(Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sirah Nabawiyah)
Dosen Pengampu: Imamul Huda, M.Pd.I.



Disusun Oleh:
Astriyani Restiningrum           (23010170051)
Dina Rahayuningsih                (23010170050)
Umi Malikhatul Bariroh          (23010170064)
                                          Ummatul Aliyah                     ( 23010170062)

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
TAHUN AKADEMIK 2017/2018



KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim.
Puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT, karena berkat rahmat dan karunianya kami bisa menyelesaikan makalah mata kuliah “studi keislaman” dengan tema: eksistensi malaikat (asal kejadian, tugas dan hakikat malaikat).
Salawat serta sslam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, yang kita nanti-nantikan syafaatnya di Yaumul Qiyamah nanti. Amiin
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas mata kuliah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami , umumnya bagi siapa saja yang membaca. Amiin
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekhilafan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik guna memperbaiki makalah kami selanjutnya.

Salatiga,  September 2017

Penyusun


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………….
DAFTAR ISI……………………………………………………………………
BAB I: PENDAHULUAN………………………………………………….......
A.    Latar Belakang………………………………………………………….
B.     Rumusan Masalah………………………………………………………
C.     Tujuan…………………………………………………………………..
BAB II: PEMBAHASAN………………………………………………………
A.    Hijrah ke Habsyi………………………………………………………
B.     Hijrah ke Thaif…………………………………………………………
C.     Hijrah ke Yastrib………………………………………………………
BAB III: PENUTUP…………………………………………………………….
A.    Kesimpulan……………………………………………………………...
B.     Saran…………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Orang-rang musyrikin semakin brutal dan kejam dalam menyakiti dan menyiksa kaum muslimin. Intimidasi dan siksaan yang mereka lakukan tak terbendung lagi. Mereka menyakiti kaum muslimin dengan pukulan, pemboikotan pangan, siksaan di bawah terik matahari bahkan pembakaran dengan api untuk satu tujuan yaitu agar agar orang muslimin keluar dari agama islam. Di antara mereka ada yang tak kuasa terhadap siksaan fisik, namun hati mereka tetap kokoh pada keimanan. Ada pula di antara mereka yang kuat agamanya dan Allah memberikan pemeliharaan kepada mereka. Ketika siksaan dan gangguan semakin berat maka Nabi Muhammad memerintahkan para sahabat untuk berhijrah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang terjadi ketika hijrah ke Habsyah?
2.      Apa yang terjadi ketika hijrah ke Thaif?
3.      Apa yang terjadi ketika hijrah ke Yastrib?

C.     Tujuan Masalah
1.      Mengetagui apa yang terjadi ketika hijrah ke Habsyi.
2.      Mengetagui apa yang terjadi ketika hijrah ke Thaif.
3.      Mengetagui apa yang terjadi ketika hijrah ke Yastrib.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    HIJRAH KE HABSYAH (ETHIOPIA)
1.      Sebab-Sebab Hijrah ke Habsyah yang Pertama
Orang-rang musyrikin semakin brutal dan kejam dalam menyakiti dan menyiksa kaum muslimin. Intimidasi dan siksaan yang mereka lakukan tak terbendung lagi. Mereka menyakiti kaum muslimin dengan pukulan, pemboikotan pangan, siksaan di bawah terik matahari bahkan pembakaran dengan api untuk satu tujuan yaitu agar agar orang muslimin keluar dari agama islam. Di antara mereka ada yang tak kuasa terhadap siksaan fisik, namun hati mereka tetap kokoh pada keimanan. Ada pula di antara mereka yang kuat agamanya dan Allah memberikan pemeliharaan kepada mereka.
Pada suatu hari, sang musuh Allah yaitu Abu Jahal lewat dan mendapati Samiyah ibunda Ammar bin Yasir, suami dan puteranya tengah disiksa. Abu Jahal menghampiri wanita malang itu lalu menikam kemaluannya dengan menggunakan tombak hingga tewas seketika.
Ketika melewati beberapa budak yang sedang disiksa dengan sangat biadab, Abu Bakar merasa sangat kasihan. Kemudian Ia memerdekakan beberapa di antara mereka. Beberapa budak tersebut ialah sahabat Bilal bin Rabbah, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubais, Zanirah, Nahdiyah beserta puterinya dan seorang budak perempuan milik Bani Adiy yang disiksa oleh Umar (sebelum masuk islam).
Menyaksikan semua penindasan ini, sementara Rasulullah tidak kuasa untuk menghalaunya, beliau bersabda kepada para sahabat, “Sekiranya kalian pergi berhijrah ke Habsyah, sesungguhnya disana terdapat seorang raja yang tidak akan menzalimi orang yang meminta perlindungan kepadanya. Itulah negeri yang baik. (Berhijrahlah) sampai Allah menjadikan bagi kalian jalan keluar dari apa yang kalian rasakan saat ini.”
Maka untuk menghindaripenindasan dan intimidasi karena semakin banyaknya kaum muslimin, maka berangkatlah kaum muslimin yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, yang dipimpin oleh Usman bin Affan. Maka peristiwa ini merupakan hijrah yang pertama dalam islam.
2.      Peristiwa Hijrah ke Habsyah yang Pertama
Para sahabat Rasulullah meninggalkan Makkah pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian. Mereka berangkat dengan cara sembunyi-sembunyi. Ketika tiba di pantai, ada dua kapal dagang yang mengangkut mereka ke negeri Habsyah. Mengetahui hal itu orang kafir Quraisy berusaha mengejar merekahingga tepi laut. Akan tetapi mereka terlambat sehingga tidak mendapati apa-apa.
Maka tatkala kaum muslimin tiba di Habsyah, raja Najasyi menyambut baik dan hangat kedatangan mereka. Menempatkan mereka ditempat yang pantas, sehingga kaum muslimin merasakan ketenangan dan keamanan. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan tenang tanpa ada yang menyakiti.
Tiga bulan setelah dimulainya hijrah, kaum muslimin hidup dengan berbagai perubahan yang terjadi di makkah. Lahirlah di tengah-tengah kaum muslimin suatu keinginan kuat untuk menyebarkan dakwah di Makkah, dimana pada saat itu Hamzah bin Abdul Mutholib (paman Rasulullah) dan Umar bin Khattab menyataka keislamannya. Pada saat itu Hamzah merupakan kaum muda Quraisy yang sangat disegani sedangkan Umar orang yang sangat tegas dan ditakuti. Karenanya, saat Hamzah dan Umar masuk islam kaum Quraisy segera menyadari bahwa Rasulullah semakin mendapat dukungan dan perlindungan. Maka mereka berangsur menghentikan beberapa kekerasan yang sebelumnya biasa mereka lakukan. Mereka mulai dapat sholat langsung di depan Ka’bah
Tentu semua berita baik itu sampai kepada mereka yang sedang di tanah rantau dan mereka sangat gembira akan perubahan kampung halaman. Karenanya tidak heran jika kerinduan akan kampung halaman kian terasa, jiwa mereka merindukan tanah Makkah tempat sanak saudara mereka berkumpul. Maka mereka pun kembali ke Makkah dalam suasana dan kondisi yang baru dan lebih memiliki keberanian. Mereka percaya dengan adanya kekuatan baru dari Hamzah dan Umar akan membawa kemuliaan dan kekuatan kaum muslimin. Jiwa mereka tertarik kuat untuk selalu berada di bawah naungan Ka’bah.
Akan tetapi kaum Quraisy berusaha memberikan perlawanan baru atas keislaman Hamzah dan Umar. Dari satu sisi mereka mengerahkan jurus makar-makar terbaru dan dari sisi lain mereka kembali melakukan kekerasan. Mereka menambah amunisi untuk melawan Rasulullah dan para sahabatnya. Amunisi baru yang dimaksud adalah pemberlakuan boikot ekonomi atas kaum muslimin, yang berisi sebagai berikut:
a.       Muhammad dan kaum keluarganya serta kaum pengikutnya tidak diperkenankan menikah dengan orang –orang Quraisy yang lain, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.
b.      Kaum Quraisy tidak diperkenankan berjual beli barang apa saja dengan Muhammad dan keluarganya serta pengikutnya.
c.       Kaum Quraisy tidak diperkenankan memjalin persahabatan atau pergaulan dengan Muhammad dan keluarganya serta pengikutnya.
d.      Kaum Quraisy tidak diperkenankan mengasihi dan menyayangi Muhmmad dan kaum keluarganya serta pengikutnya.
e.       Undang-undang yang telah ditetapkan ini, sesudah ditulis dan digantungkan di dalam Ka’bah, ditetapkan sebagai undang-undang suci kaum Quraisy dan keluarga Muhammad serta pengikutnya.
f.       Undang-undang ini berlaku selama keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib belum menyerahkan Muhammad kepada kaum Quraisy untuk dibunuh. Bilamana Muhammad sudah diserahkan kepada mereka, undang-undang ini tidak berlaku lagi.
3.      Peristiwa Hijrah ke Habsyah yang Kedua
Dengan diberlakukannya undang-undang pemboikotan tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya hijrah ke negeri Habsyah untuk yang kedua kalinya. Adapun mereka yang pergi berhijrah berjumlah 101 orang yang terdiri atas 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Yang menjadi kepala rombongan sekaligus sebagai penanggungjawab atas segala sesuatu yang berkenaan dengan kaum muhajirin ini ialah sahabat Ja’far bin Abi Tholib.
Keadaan kaum imigran islam yang berada dalam suaka raja Najasyi benar-benar aman. Mengetahui hal itu, orang-orang kafir Quraisy menyuruh Abdullah bin Rabi’ah dan Amr bin Ash untuk mengejar mereka. Keduanya menemui raja Najasyi dengan membawa banyak hadiah dan meminta kepada raja Najasyi supaya bersedia mengusir kaum imigran muslim. Permintaan delegasi kaum Quraisy tidak langsung dikabulkan oleh raja Najasyi. Raja yang beragama nasrani ini lantas memanggil Ja'far dan rombongannya ke istana.
Di tempat inilah dan di hadapan raja beserta para penasehat agamanya, Ja'far menjelaskan maksud kedatangannya ke Habasyah. Putra Abu Thalib ini dengan tegas mengatakan bahwa dia dan rombongannya, bukanlah budak yang lari dari tuannya atau pembunuh yang lari dari tebusan darah. Mereka lari dari Mekah hanya untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan dan tekanan yang dilakukan para pemuka Quraisy terhadap mereka. Mereka dianggap layak mendapat perlakuan buruk karena telah menyembah Tuhan yang Esa dan menolak sujud kepada berhala.
Penjelasan Ja'far bin Abi Thalib berhasil mematahkan makar utusan Quraisy. Raja Najasyi memerintahkan untuk mengembalikan semua hadiah yang dikirim Quraisy kepadanya. Utusan Mekah-pun meninggalkan negeri Habsyah. Untuk kaum muhajirin, raja Najasyi memberikan izin tinggal di negerinya dengan aman dan damai sampai kapanpun juga.

4.      Keadaan Nabi Muhammad SAW. Selama Diboikot
Selama pemboikotan yang berlangsung kurang lebih tiga tahun, Rasulullah dan kaum keluarganya serta kaum muslimin yang tidak ikut ke negeri Habsyah mengalami berbagai kesulitan dan kesengsaraan dalam hidupnya. Pada masa pemboikotan mereka hanya memakan apa saja yang didapat dan berpakaian apa saja yang dapat dikenakan.
Inilah kesengsaraan dan kemiskinan yang diderita Rasulullah dan kaum muslimin pada masa itu. Sungguh pun demikian, Rasulullah dan segenap kaum muslimin tetap tenang serta teguh mengerjakan perintah-perintah Allah.

5.   Cerita tentang rusaknya lembar pengumuman
Dalam masalah pembuatan dan pemasangan lembar pengumumanaksi pemboikotan ini menjadi pro kontra di kalangan kaum kafir Quraisy. Pihak yang kontra berusaha untuk merobeknya.
Selanjutnya, Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya atas nasib lembar pengumuman aksi pemboikotan yang dilakukan kaum Quraisy. Allah mengirim rayap untuk memakannya berikut semua tulisan yang berisi kedzaliman kecuali tulisan yang yang menyebut nama Allah.
Rasulullah memberitahukan hal tersebut kepada pamannya yaitu Abu Tholib. Abu Tholib langsung menemui para pemuka kaum Quraisy dan berkata, “Jika ia dusta, aku akan menyerahkan ia (Muhammad) kepada kalian. Terserah mu apakan ia. Dan jika ia benar, kalian harus menghentikan tindakan kalian yang jahat dan semena-mena ini.”
Mereka setuju, kemudian menurunkan lembar pengumuman pemboikotan tersebut. Begitu dilihat ternyata memang benar apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi mereka justru bertambah kufur.
B.     HIJRAH KE THAIF
      Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Thaif terjadi pada tahun ke-10 Kenabian ketika para ketua dan pembesar musyrikin Quraisy menyadari bahwa Nabi tidak mempunyai tulang punggung yang dapat melindungi beliau apabila disakiti dan dianiaya atau diperlakukan dengan kejam karena orang yang beliau sayangi dan kasihi telah meninggal dunia, yaitu Abu Thalib dan Khadijah sehingga disebut tahun kesedihan (Ammul Huzni), maka mereka semakin menghalangi dan memusuhi beliau. Setiap hari, siang dan malam, beliau tidak henti-henti menerima celaan, cercaan, penghinaan, dan perbuatan yang menyakitkan dari para musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, teringat oleh beliau bahwa di kota Thaif ada seorang yang masih termasuk keluarga dekat beliau dari keturunan Tsaqif. Di kota Thaif, merekalah yang memegang kekuasaan. Ketika itu tinggal tiga orang, yaitu: Kinanah yang bergelar Abdu Jaffi, Mas’ud yang bergelar Abdul Kulal, dan Habib. Ketiganya adalah anak dari Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi dan masing-masing memegang kekuasaan di kota Thaif.
      Nabi Muhammad memilih Thaifkarena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut dapat mereka kuasai. Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu. Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka. Bergabung pula bersama mereka Bani Daus.[4] Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang memiliki simpanan harta di Thaif. Disana juga mereka mengisi waktu-waktu rehat pada musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Pergerakan dakwah yang penuh strategi yang dijalankan oleh Rasulullah ini sebagai bentuk upaya beliau, antusias beliau, untuk mendirikan negara Islam tangguh yang sanggup bertahan dalam arena pertarungan. Karena, sesungguhnya suatu negara yang kuat merupakan fasilitas dakwah yang teramat penting dan utama. Maka tatkala beliau tiba di Thaif, beliau langsung menuju pusat kekuasaan, tempat diputuskannya suatu ketetapan politik di Thaif.
      Nabi SAW berharap apabila beliau datang ke Thaif dan bertemu dengan mereka, mereka bisa mengikuti seruannya dan ikut serta menggerakkan dakwah beliau di kota itu. Dengan demikian, penduduk kota itu akan segera mengikuti seruan beliau dan selanjutnya mereka dapat memberi bantuan untuk kepentingan penyiaran Islam di kota Mekah. Dengan tidak berpikir panjang, Nabi saw berangkat ke Thoifsecara diam-diam bersama Zaid bin Haritsah (bekas budak Khadijah yang telah diangkat sebagai anak beliau)dengan berjalan kaki.
      Setiba Nabi saw. di Thaif bersama Zaid, beliau mencari tempat kediaman orang yang ditujunya, yakni para pemimpin Bani Tsaqif yang sedang berkuasa disana. Beliau lalu menyatakan maksud kedatangannya kepada mereka, yaitu selain hendak menyambug tali kasih sayang dengan mereka dan mengekalkan persaudaraan dengan mereka sepanjang adat istiadat bangsa Arab, beliau menganjurkan kepada mereka supaya mengikut apa yang diserukannya.
      Setelah mereka mendengar seruan beliau, seketika itu penduduk Thaif yang bodoh marah, mencaci maki, dan mendustakan beliau dengan perkataan-perkataan yang sangat kasar. Mereka mengusir beliau dari rumah mereka dan pergi dari kota Thaif. Jika tidak, beliau diancam akan dibinasakan saat itu juga.
      Setelah mendengar celaan, caci maki, dan ancaman mereka, beliau mohon diri seraya berkata, “Jikalau kamu tidak sudi menerima kedatanganku ke sini, tidak mengapa. Tetapi janganlah kedatanganku kemari disiarkan kepada penduduk kota ini.”
      Beliau tidak ingin hal tersebut terdengar oleh kaumnya sehingga akan memperunyam keadaan. Karena dalam misinya ini, beliau berusaha melakukan serahasia mungkin, dan tidak ingin tercium pergerakanya oleh kaum Quraisy, karena beliau sangat memperhatikan hal-hal berikut ini:
a.       Saat berangkat ke Thaif, beliau tidak menggunakan kendaraan, namun dilakukan dengan berjalan kaki, agar orang Quraisy tidak mengira bahwa beliau akan keluar dari Makkah. Sebab jika sampai beliau menggunakan kendaraan, mereka akan membaca bahwa beliau sedang menuju suatu tempat tertentu, dan boleh jadi mereka akan melakukan penghadangan dan pencekalan.
b.      Rasulullah mengajak Zaid, anak angkat beliau dalam keberangkatan tersebut. Jika dicermati, dengan memiih Zaid sebagai teman perjalanan, terdapat beberapa aspek keamanan yaitu, jika orang melihat bahwa ada orang lain yang menemani keberadaannya, tentunya mereka akan membaca bahwa Rasulullah tidak bergerak sendirian. Disamping itu, beliau mengenal Zaid sangat dekat. Beliau percaya Zaid dapat menjaga rahasia, karena dia adalah orang yang ikhlas, jujur, dan amanah. Dan itulah yang ditampakkan Zaid tatkala beliau diserang dengan lemparan batu. Dia dengan berani melindungi Rasulullah dengan mnjadikan dirinya sebagai perisai beliau dari lemparan tersebut walaupun kepalanya harus cedera.
Tatkala perlakuan para pemuka dan masyarakat Thaif sangat buruk kepada beliau. Beliau dengan sabar menanggunnya, tidaklah beliau marah atau mendendam, namun beliau hanya meminta agar mereka tidak menutupi semua kejadian ini. Inilah langkah kerahasiaan yang sangat optimal. Sebab jika sampai orang Quraisy mengetahui hal itu, tidak hanya mereka akan mencerca beliau, namun boleh jadi mereka akan semakin keras dalam melakukan penindasan dan tekanan, maka semakin terhalangilah semua gerakan beliau di dalam dan luar Makkah.[6]
1.         Berserah diri dan berdoa kepada Allah
Sungguh, Bani Amr adalah orang-orang yang tercela, bukannya menutupi peristiwa itu, mereka malah membesar-besarkannya dengan melakukan aksi penyerangan kepada Rasul. Mereka melempari beliau hingga berdarah-darah. Hingga akhirnya beliau dan Zaid terpojok di perkebunan Atabah dan Syaibah.Keduanya adalah putra Rabi’ah yang sedang berada di dalam kebun tersebut. Lalu setelah melihat kondisi yang demikian, orang-orang Tsaqif yang semula mengejar beliau akhirnya kembali pulang. Lalu beliau bersandar di salah satu batang anggur. Di sana beliau dan anak angkatnya Zaid terduduk lemas, berusaha memulihkan tenaga dari apa yang baru saja keduanya rasakan, dan kedua putra Rabi’ah si pemilik kebun melihat kepada beliau dan Zaid. Keduanya pun menyaksikan dengan mata kepala apa yang diterima Rasulullah dari keburukan orang-orang Tsaqif. Maka dalam kondisi yang lemah dan tekanan psikis tersebut, beliau bermunajat kepada-Nya mengharap ridha-Nya semata.
“Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Peindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempermasalahkan diriku. Engkau berkenan, sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu”[7]
2.      Pertemuan Addas dengan Nabi Muhamad SAW
Utbah dan Syaibah yang sedang berada di kebun itu selalu mengamati gerak-gerik Nabi dan Zaid. Keduanya pun mengetahui bahwa kedua orang itu tengah menderita karena tampak oleh mereka bahwa keduanya sedang terluka parah dan berlumuran darah. Timbullah rasa kasihan mereka terhadap dri Nabi dan Zaid. Mereka lalu menyuruh bujangnya bernama Addas supaya mengantar sepiring anggur kepada Nabi.
Addas adalah seorang pengikut agama Nasrani. Ketika ia mendapat perintah dari tuannya supaya mengantar sepiring anggur, ia segera mengambil buah dan diantarkannya kepada Nabi. Sebelum anggur itu diantar, Addas dipesan oleh tuannya bahwa apabila anggur itu telah sampai, Nabi segera dipersilakan memakannya. Pesan itu oleh Addas dipeerhatikan benar-benar. Setelah sampai kepada Nabi saw, Addas mempersilahkan beliau untuk segera memakanya. Sepiring anggur itu diterima Nabi saw dengan baik dan sebagian anggur itu diberikan kepada Zaid lalu mereka segera memakannya. Ketika hendak memakannya mereka membaca bismillah.
Addas selalu memperhatikan gerak-gerik Nabi saw. dari jauh, Utbah dan Syaibah memperhatikan juga. Sesudah Nabi dan Zaid memakan buah anggur tadi, Addas lalu bertanya kepada Nabi tentang kalimat yang dibaca oleh beliau ketika makan.
Beliau bertanya, “dari negeri apakah engkau wahai Addas? Dan apa agamamu?” dia menjawab, aku seorang Nasrani dan aku adalah seorang yang berasal dari negeri Ninawa.”
Rasul bertanya lagi, “ apakah dari desa seorang lelaki yang shaleh bernama Yunus bin Mata?”
Addas menjawab, “ apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Mata?”
Beliau bersabda, “dia adalah saudaraku, dia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi.”
Lalu Addas langsung memeluk Rasulullah, mencium tangan dan kakinya. Melihat tingkah Addas, kedua putra Rabi’ah yang merupakan majikannya berkata antara satu dengan yang lainnya, “budakmu telah dirusak di hadapanmu.”Maka ketika Addas datang kembali kepada majikannya, keduanya berkata,”celakalah engkau wahai Addas, mengapa engkau tadi mencium kepada tangan dan kaki lelaki itu?”
Addas menjawab,”wahai tuanku, tidak ada di muka bumi ini yang lebih baik dari lelaki ini. Sungguh dia telah menyampaikan kepadaku tentang suatu perkara yang tak seorang pun mengetahuinya selain aku.”
Keduanya berkata, “celakalah engkau, jangan sampai dia membuatmu berpaling dari agamamu, sesungguhnya agamamu lebih baik daripada agamanya.”
Keteladanan terkait dengan kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa hijrah ke Thaif dan Habsyah
Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia yang mulia pilihan Allah SWT. Tak salah jika perkataan dan perbuatannya dijadikan sebagai teladan oleh umat Islam dalam kehidupan manusia. Sikapnya yang lembut dan tak pendendam menjadikan ciri suri tauladan yang dicontohkan beliau. Rasulullah juga selalu tenang dan tidak gegabah dalam menjalankan suatu misi atau peperangan untuk menyiarkan agama Islam.
Begitu juga ketika Rasulullah melakukan hijrah ke negeri Habsyah dan Thaif. Beberapa teladan yang dapat dipetik dalam peristiwa tersebut adalah diantaranya:
Tidak mengandalkan keajaiban di luar kemampuan manusia biasa. Apa yang dapat dilakukan diperhitungkan dengan matang.
Sabar dalam menghadapi setiap musuh yang menghadang beliau.
Tidak membalas kekerasan yang dilakukan oleh musuh.
Hijrah Rasulullah Saw dilakukan semata-mata hanya untuk menyiarkan agama Islam.
Tawakal selalu melekat dalam hatinya dalam menghadapi segala masalah.


C.    Hijrah Ke Yastrib
1.      Tahun Pertama di Yastrib
      Ketika kembali ke yatsrib diutuslah Mus’ab bin Umair untuk bisa membacakan  al-qur’an dan memahamkan agama islam. Mus’ab tinggal dirumah Abu umamah as’ad bin zurarah  Pemimpin dari kabilah aus yakni sa’ad bin mu’ad menganggap as’ad dan mus’ab datang untuk membodoh-bodohi kaumnya usaid. Usaid mengambil tombak lalu menemui mereka berdua. As’ad berkatakepada Mus’ab agar mempercayakan segala urusan kepada Allah. Usahid berdiri dihadapan mereka dan menanyakan apa yang membawa mereka datang ?apakah untuk membodohi kaumnya usaid? Mus’ab mengajak usaid duduk dan menyatakan bahwa jika usaid ridho terhadap urusannya maka terimalah jika tak suka mus’ab dan as’ad akan menjauh. Mus’ab menjelaskan kepadanya tentang al islam dan membacakannya kepada alqur’an. Usaid merasakan indahnya agama islam dan memeluk serta bersyahadat dengan benar disusul kemudian sa’ad  bin  mu’ad. Maka tidaklah pada hari itu kaum laki-laki maupun perempuannya telah menjadi muslim dan muslimah kecuali al usairim, ia menagguhkan keislamannya hingga peristiwa uhud dan terbunuh sebagai syahid di jalan Allah sebelum sempat bersujud kepada Allah. Mus’ab bin umair kembali kemakkah dengan kabar gembira berupa keberhasilan dakwahnya itu.[1]
2.      Yatsrib Menyambut Muhajir Agung
      Penduduk  Yastrib  pria, wanita  berbondong-bondong  ke luar  rumah menyambut  kedatangan  Muhammad .  Mereka menantikan  kedatangan  beliau sejak tersiar  kabar  bahwa  junjungan telah berangkat hijrah drai makkah  . Mendengar  kabar  bahwa kaum quraisy  terus  mengejar  dan mencarinya  untuk  membunuhnya ,  juga  kabar  bahwa  beliau  menempuh  perjalanan  yang  berat dan penuh rintangan  itu  dengan  sangat tabah . Nabi mengarungi  bukit  berbatu  dan  padang  pasir  di  tengah-tengah  dataran  Tihamah orang   memantulkan  panas  terik  matahari.  Para  penduduk  yastrib  keluar  terdorong  ingin mengetahui  berita tentang dakwah  islam yang  sudah tersiar di seluruh jazirah arab dan mengikis kepercayaan lama yang diwarisi nenek moyang mereka.
      Mereka keluar bukan hanya didorong dua alasan itu, melainkan lebih jauh lagi . Setiap golongan dan setiap kabilah di yastrib memiliki kepentingan sendiri berkaitan dengan kedatangan Rosululloh di kota itu, baik dari sisi politik maupun sosial. Hal inilah yang lebih besar mendorong mereka  menyambut  kedatangan  Rosululloh  daripada ingin  melihat  dan  bertemu dengan beliau.
      Demi alasan itu kaum musyrik  dan  kaum  yahudi  bersama-sama kaum muslim – muhajirin dan anshar menyambut kedatangan Nabi. Mereka terus  mengikuti  Rosululloh  ketika  melepaskan  kekang  untanya dan membiarkan  unta itu berjalan sekehendaknya sendiri  meskipun hewan itu agak kesulitan berjalan karena jalan begitu sesak dipenuhi manusia yang ingin memandangi wajah beliau.
      Semua orang berkerumun dengan pandagan  mata  mengarah pada sosok yang  gambarannya  terlukis  dalam  jiwa  , orang-orang  menyaksikan  Baiat aqabah  dari  penduduk  kota  untuk  membela dan melindungi sampai mati dari bahaya dan ancaman apapun,  termasuk kejahatan kaum quraisy. Beliau melakukan demi keimanannya pada Allah yang didasari  terhadap alam semesta dan penyingkapan berbagai hakikat dan rahasianya.
3.   Pembangunan Masjid dan Rumah Rasulullah
Unta yang dinaiki Nabi berlutut ditempat penjemuran kurma milik Sahl bin Suhail ibnu Amr, tempat itu dibelinya dan dibangun sebuah masjid diatasnya. Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub Khalid ibnu Zaid Al Ansyari. Pembangunan masjid bersama kaum muslim dari Muhajirin dan Anshar. Selesai masjid dibangun, disekitarnya dibangun pula tempat tinggal Rasulullah.
Masjid itu berupa sebuah ruangan dengan keempat dindingnya terbuat dari tumpukan batu bata dan tanah. Atapnya berupa anyaman daun kurma dan dibiarkan terbuka dengan salah satu bagian lagi digunakan sebagai tempat tinggal orang fakir yang tidak punya rumah. [2]

4.   Jaminan Kebebasan Beragama
Selesai membangun masjid dan tempat tinggal, Rasulullah pindah dari rumah Abu Ayyub ke rumahnya. Rasulullah mulai memikirkan langkah-langkah baru dalam menata komunitas muslim berkembang lebih baik dan lebih maju. Rasulullah melihat kota itu terdiri dari berbagai suku dan kelompok yang berbeda-beda, situasi yang tidak ditemukannya di Makkah.
Suku itu merindukan kehidupan yang damai dan tentram, Nabi ingin Yastrib membawa ketentraman bagi penduduk masa depan, tujuan utama Rasulullah melangsungkan dan mengembangkan risalah yang diamanatkan Allah kepadanya. Selama tiga belas tahun Rasulullah berdakwah menyeru keluarganya dan kaumnya kepada islam, menyembah Allah Yang Esa dan meninggalkan segala tuhan selain Dia. Risalah yang disampaikan di Yastrib sama dengan risalah yang diserukan kepada penduduk Makkah. Karena mengkhawatirkan penganiayaan dan kekerasan kaum Quraisy, risalah itu tidak sampai menyentuh hati semua penduduk Makkah. Segala penganiayaan dan tindakan kekerasan itu, menjadi perintang antara keimanan dan hati manusia yang belum mau menerimanya.
Rasulullah ingin meyakinkan penduduk Yastrib, siapapun yang menerima bimbingan Allah dan masuk ke dalam agamaNya pasti akan terlindung dari segala gangguan. Bagi orang beriman, keyakina itu akan membuat imannya makin kokoh, sedangkan orang yang amsih ragu-ragu, takut, atau lemah, kayakinan itu akan mendorongnya segera menerima keimanan.
Seluruh tujuannya adalah memberikan rasa tenang kepada semua orang untuk menganut ajarannya dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjalankan agama masing-masing. Kebebasan yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan kemajuan serta kesatuan yang damai dan terhormat.[3]
5.      Kedamaian Sebagai Pondasi Komunitas Madinah
Nabi sangat mendambakan perdamaian dan tidak menyukai peperangan. Ia sangat berhati-hati dan tidak ingin menempuh jalan kekerasan, kecuali terpaksa demi membela kemerdekaan, agama, dan kepercayaan.
Perang hanya boleh dilakukan untuk mempertahankan diri dan menangkis serangan pihak yang menyerang. Visi yang dimiliki Muhammad disambut baik oleh semua kalangan. Penduduk Yastrib terdiri atas kaum muslim Muhajirin dan Anshar, orang musyrik dari suku Aus dan Khazraj yang tetap berhubungan baik dengan kaum muslim dan kaum Yahudi.
Karena ukhuwah islamiyah ditanamkan Rasulullah, Muhajirin dan Anshar memiliki hubungan yang erat dan padu. Kekhawatiran Muhammad belum sepenuhnya hilang, beliau memikirkan langkah dan strategi untuk menghilangkan keraguan itu. Langkah pertama untuk menyatukan Muhajirin dan Anshar itu menentukan keberhasilan berikutnya. Golongan musyrik dari suku Aus dan Khazraj, merasa lemah ditenga-tengah kaum Muslim dan Yahudi. Mereka mencari cara agar kedua golongan berseteru. Kaum Yahudi menyambut baik kedatangan Muhammad, agar beliau bisa diminta bantuannya untuk menyatukan Jazirah Arab. Dengan demikian, mereka dapat membendung laju ajaran kristen yang telah mengusir Yahudi dari Palestina. Jadi, masing-masing menerima dan bergabung dalam komunitas yang dibangun oleh Muhammad dengan alasan dan motif yang berbeda-beda. [4]         
6.      Persaudaran Kaum Muslim
Tujuan pokok  yang  ingin dicapai Rasulullah di Yastrib sehingga tokoh meletakkan dasar kesatuan politik dan organisasi yang belum dikenal diseluruh wilayah Hijaz sebelumnya itu, meskipun di Yaman sudah dibangun jauh sebelum itu. Rosulullah bermusyawarah dengan Abu bakar dan Umar, mereka menghasilkan beberapa keputusan.
Pertama , menyusun barisan kaum muslim dan mempererat persatuan mereka menghilangkan segala kemungkinan yang akan memicu perseteruan,Nabi mengajak kaum muslim supaya masing-masing memil saudara karena Allah.
Rosulullah mempersaudarakan setiap muhajirin yang telah menetap di Yastrib  layaknya persaudaraan sedarah ,senasib.
Kaum Anshar memperlihatkan keramahan dan kecintaan luar  biasa kepada saudara mereka dari kalangan Muhajirin,sebab mereka telah meninggalkan makkah ,rumah , dan semua harta kekayaan, mereka mempertahankan keimanan. Memasuki madinah, sebagian besar  mereka  nyaristidak  memiliki makanan , para Muhajirin bukan berasal dari golongan kaya kecuali Utsman ibn affan. Sebagian lainnya hanya bisa membawa sedikit harta dan perbekalan.
Suatu hari Hamzah menemui Rosulullah meminta makanan. Abdurrahman Ibn Auf yang bersaudara dengan Sa’ad al-arabi sudah tidak punya apa-apa lagi ketika tiba di yastrib. Ketika Sa’ad menawarkan hartanya akan dibagi dua, Abdurrahman menolak. Ia minta ditunjukkan jalan menuju pasar , disana ia mulai berdagang mentega dan keju. Karena kecakapannya ia mendapatkan kekayaan kembali, dan dapat pula memberikan mas kawin kepada salah seorang wanita Madinah. Ia memiliki beberapa kafilah dagang yang pergi pulang membawa aneka komoditas.
Abu Bakar, Umar, Ali bin Abu Thalib, dan lain-lain. Mencari mata pencaharian dengan bertani, atau menggarap tanah milik orang Anshar. Ada juga beberapa selain mereka yang masih tetap harus menghadapi kesulitan hidup. Mereka ini tidak mau menjadi beban orang lain. Dalam bekerja itu, mereka dapat merasakan kepuasan batin yang tidak pernah mereka rasakan selama di Makkah.
Disamping itu, sekelompok orang Arab datang ke Madinah lalu menyatakan masuk Islam, dalam keadaan miskin dan kekurangan. Ada yang tidak punya tempat tinggal. Rasulullah menyediakan tempat di serambi masjid atau shuffah. Orang-orang ini disebut ahlu shuffah (penghuni serambi). Kebutuhan mereka diambil dari harta kaum muslim, baik Muhajirin maupun Anshar yang memiliki keluasan rezeki.[5]
7.      Kasih Sayang Muhammad
Rasulullah membangun dasar organisasi politiknya membentuk pakta perjanjian bersama kaum Yahudi yang menjamin kebebasan dan persekutuan yang kuat. Nabi berbicara dengan para pemuka mereka, lalu mengikat mereka dengan tali persahabatan, dengan pertimbanagan bahwa mereka juga ahli ktab dan kaum monotheis.
Baitul Maqdis merupakan pusat perhatian kaum yahudi tempat berkumpul Bani Israil. Persahabatan Nabi dengan kaum yahudi semkin hari semakin erat dan dekat. Orang begitu mulia, rendah hati, penuh kasih sayang, memenuhi janji, pemurah, sangat dekat dengan kalangan miskin dan menderita telah merubah Yastrib menjadi kota berwibawa. Perjanjian merupakan suatu dokumen politik pantas dikagumi sepanjang sejarah.
Sebelum Muhammad ada Nabi Isa, Nabi Musa, mereka terbatas dalam urasan dakwah agama. Mereka membela kebebasan orang yang sudah beriman dengan kekuatan senjata dan jalan peperangan. Penyebaran Islam dan kemenangan menjalankan misi kebenaran berada ditangan Muhammad. Muhammad adalah orang besar dan lambang kesempurnaan manusia. Orang beriman tidak boleh mebiarkan seseorang menanggung beban hidup dan utang berat diantara sesama.
Orang beriman dan bertakwa melawan orang yang melakukan kejahatan, gemar melakukan kezaliman, kejahatan, permusuhan, atau kerusakan diantara orang beriman sendiri dan sama-sama melawannya meskipun terhadap anak mereka sendiri. Orang beriman hendaknya menolong satu sama lain. Orang beriman saling membela terhadap sesamanya yang telah wafat di jalan Allah.
Orang beriman menentang pembunuh dan tidak dibenarkan berdiam diri. Seseorang beriman telah mengakui dan percaya kepada Allah dan kepada hari kemudian maka tidak dibenarkan menolong pelaku kejahatan atau membelanya.
Seseorang tidak boleh dirintangi dari haknya. Barangsiap diserang, dirinya atau keluarganya, maka mereka harus melindungi diri, kecuali jika ia berbuat dzalim. Jika berbuat dzalim, Allah yang menentukan.[6]
8.   Pernikahan Muhammad dengan Aisyah
‘Aisyah tinggal dirumah disamping rumah Saudah di sisi masjid. Melihat Muhammad seorang ayah penuh kasih dan suami yang penuh cinta. Situasi sosial politik di Yastrib benar-benar kondusif dan tenang. Ia dapat merancang langkah-langkah untuk membangun komunitas muslim lebih maju. [7]     
9.      Seruan Untuk Sholat
Ketika Rasulullah menetap di Madinah waktu shalat sudah tiba, lalu terpikirkan untuk memanggil orang hendak mendirikan shalat mempergunakan terompet. Nabi mempergunakan lonceng akan dipukul ketika waktu shalat tiba sebagaimana yang dilakukan orang kristen.
Perintah Allah melalui wahyu penggunaan lonceng dibatalkan dan diganti dengan adzan.  Rasulullah memanggil Abdullah ibnu Zaid Ta’labah dan berkata, “Pergi dan temuilah Bilal, suruh ia menyerukan adzan karena suaranya lebih merdu daripada suaramu.” Bilal menggemakan suaranya ke penjuru hingga menyentuh telinga setiap pendengarnya. Mereka telah merasakan kebebasan beragam ditetapkan islam dan sesungguhnya agama hanya untuk Allah.
Kesuksesan dakwah islam didukung keindahan dan keistimewaan pribadi rasulullah menjadi teladan tertinggi bagi semua manusia. [8]
10.  Persaudaraan adalah Dasar Peradaban Islam
Persaudaraan umat manusia tidak sempurna keimanan sebelum ia dapat mencintai saurdaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah sangat murka kepada orang yang melanggar janjinya sendiri. Muhammad adalah utusan Allah. Ia tidak mau menampakkan diri dengan gaya orang berkuasa, atau raja, atau pemegang kekuasaan dunia. Nabi akan duduk dimana saja ada tempat kosong.
Nabi orang yang sangat setia ketika ada orang menyebut nama Khadijah, langsung terkenang masa-masa indah bersamanya. Kebaikan dan kasih sayang Muhammad menjadi sendi persaudaraan islam dan menjadi dasar peradaban umat manusia tidak terbatas sampai di situ. Kasih sayang Rasulullah meliputi segala hal dan beliau selalu memberi perlindungan kepada siapa saja yang memerlukannya. [9]
11.  Persaudaraan, Keadilan, dan Kasih Sayang
Cinta, kasih sayang, dan kelembutan dikembangkan bukan karena lemah atau mudah menyerah. Persaudaraan Muhammad dengan semua orang berhubungan dengannya smat-mata karena Allah.
Sifat-sifat mulia merupakan fondasi utama pembangunan jiwa, mendasari kehendak bebas, dan mendorong setiap manusia untuk mencari ridho Allah. Muhammad dan para sahabatnya hijrah dari Makkah denga tujuan mereka tidak berada di bawah kekuasaan Quraisy dan jiwa mereka tidak menjadi lemah. Kehidupan materi dapat menguasai diri kita meskipun sebenarnya kita tak lagi memerlukan materi. [10]
12.  Muhammad Sang Zahid
Muhammad adalah contoh kekuatan jiwa yang ideal. Karena sifat mulianya. Nabi bersikap sederhana dalam urusan pakaian. Rasulullah memang menahan diri dari kenikmatan dunia tetapi tidak menyiksa diri. Muhammad ingin memberikan teladan luhur kepada manusia dalam menghadapi hidup. Islam menganjurkan umatnya untuk memberi maaf, rasa kasih sayang hemndaklah dibangun dengan hati yang terbuka dan ikhlas untuk mencapai kebaikan yang sesungguhnya.[11]
13.  Polemik Antara Muhammad dan Yahudi
Posisi kaum muslim di Madinah bertambah kuat. Ternyata, posisi Muhammad jauh lebih kuat dari yang mereka bayangkan semula dan ajarannya makin kokoh. Kaum muslim mulai menyadari keadaan musuh mereka dan tujuan yang hendak mereka capai. Suaru hari, musuh-musuh duduk di masjid dan berbicara sesama mereka dengan berbisik-bisik sehingga Nabi meminta mereka dikeluarkan dari masjid dengan paksa. Namun, itu tidak membuat jera untuk terus melakukan tipu muslihat dan berusaha menjerumuskan kaum muslim. Ia mengingatkan bahwa islam telah mempersatukan dan membuat mereka bersaudara dan saling mencintai.[12]
14.  Pemindahan Kiblat ke Ka’bah
Sesak menghadapi Muhammad dan para pengikutnya makin bertambah kuat di Madinah, mereka merancang tipu daya dan gangguan mengusir Muhammad keluar dari Madinah, dilakukan oleh kaum Quraisy terus menekan dan mengusik Rasulullah. Beliau dan kaum muslim keluar meninggalkna Makkah. Muhammad benar-benar seorang Rasul, ia mengikuti para nabi terdahulu yaitu menetap di Baitul Maqdis.
Tujuh belas bulan tinggal di Madinah, Allah menurunkan wahyu beisi perintah untuk menghadapkan kiblatnya ke Masjidil Haram rumah Ibrahim dan Ismail.[13]
15.  Pertemuan Tiga Agama
Enam puluh ekor hewan tunggangan diantara mereka ada pemuka kristen, sudah mempelajari dan menguasai seluk beluk ajaran kristen. Datangnya utusan kristen pihak yahudi sepenuhnya menolak ajaran Isa dan Muhammad. Muhammad mengajak orang kepada keesaan Allah dan kepada kesatuan ruhani yang sudah diatur sejak zaman azali hingga akhir zaman abadi. Rasulullah menyesalkan tindakan yang hendak menimbulkan keraguan mengenai keEsaan Allah. Nabi menginagtkan mereka telah mengubah autentik dalam kitab suci melalui jalan yang berbeda dari jalan para Nbai dan Rasul yang mereka akui.[14]
16.  Perenungan Kaum Muslim tentang Kaum Quraisy dan Makkah
Peradaban batu pertama diletakkan Muhammad dengan ajaran-ajaran dan diberikannya itu berkembang makin kokoh dan maju. Dorongan itu adalah kenangan dan kerinduan terhadap kampung halaman, tempat kelahiran, dan tempat mereka dibesarkan.
Islam memang melarang umatnya memelihara kebencian dan permusuhan serta memerintahkan mereka menegakkan persaudaraan. Mereka harus menjaga sikap utama yaitu membela diri, kehormatan, kebebasan beragama dan tanah air. Muhammad mengadakan Bai’at Aqabah dengan penduduk Yastrib. Tujuan politik Muhammad dan kaum Muslim diarahkan kelak kaum Muslim dapat menaklukkan Makkah, menegakkan agama Allah dan terus menegakkan dakwah. [15]

           




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sikap kaum musyrikin yang semena-mena dan kejam terhadap kaum muslimin meyebabkan Rasulullah tak kuasa melihat kaumnya ditindas kaum Quraisy. Pemboikotan dan kekejaman yang dilakukan kaum Quraisylah faktor Rasulullah menyuruh kaumnya untuk hijrah ke Habsyah pada tahun ke-5 Kenabiannya. Pemboikotan yang dilakukan Rasulullah beserta kaum muslimin lain yang tidak ikut ke Habsyah mengalami kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya memakan makanan seadanya dan berpakaian apa yang dikenakannya saja. Di negeri Habsyah, kaum muslimin diperlakuan begitu baik dengan rajanya yaitu Raja Najasyi. Walaupun Raja Najasyi termasuk Nasrani, namun hatinya begitu lembut terhadap rakyatnya. Raja Najasyi tidak pernah melakukan kekerasan maupun pilih kasih terhadapnya rakyatnya. Oleh karena itu, kaum muslimin hidup begitu tenang dan damai untuk melakukan ibadah di negeri Habsyah.
Setelah mengalami beberapa kesengasaraan yang dilakukan kaum Quraisy, Rasulullah masih mengalami kepedihan yang lain yaitu dengan meninggalnya istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib pada tahun ke-10 setelah Kenabiannya. Tahun inilah yang disebut tahun kesedihan. Untuk mengurangi kesedihannya, Rasulullah melakukan hijrah ke Thaif bersama anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Selain itu beliau juga akan berdakwah di negeri subur tersebut yang diperebutkan pihak Quraisy untuk dikuasainya. Sesampainya di Thaif, Rasulullah dan Zaid disambut dengan cercaan, hinaan, makian bahkan dilempari batu oleh masyarakat Thaif. Mereka enggan menerima maksud kedatangan Rasulullah ke Thaif. Selain itu, Nabi Muhammad juga melakukan Hijrah ke Yastrib.
DAFTAR PUSTAKA

Haikal Husain Muhammad.2015.Sejarah Hidup Muhammad.Mesir: Pustaka Akhlak
Al-Mubarrakfurry, Syafiyyur Rahman. 2006. Sirah Nabawiyah. Tegal: Ash-shaf Media.




[1] Shafiyyur-rahman al mubarokfury.sirah nabawiyyah.tegal:assaf media .2016.hlm.161
[2]Ibid....hlm.321

[3] Ibid...hlm.323
[4] Ibid...hlm.323
[5] Ibid....hlm.325
[6] Ibid...hlm.331
[7] Ibid...hlm.333
[8] Ibid...hlm.334
[9] Ibid..hlm.336
[10] Ibid...hlm.339
[11] Ibid...hlm.340
[12] Ibid..hlm.342
[13] Ibid..hlm.349
[14] Ibid..hlm.350
[15] Ibid..hlm 355

Tidak ada komentar:

Posting Komentar