MAKALAH
Hijrahnya Nabi Muhammad ke Habsyi, Thaif, dan Yastrib
(Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sirah Nabawiyah)
Dosen Pengampu: Imamul Huda, M.Pd.I.
Disusun Oleh:
Astriyani Restiningrum (23010170051)
Dina Rahayuningsih
(23010170050)
Umi Malikhatul Bariroh (23010170064)
Ummatul Aliyah
( 23010170062)
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim.
Puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT, karena berkat rahmat dan
karunianya kami bisa menyelesaikan makalah mata kuliah “studi keislaman” dengan
tema: eksistensi malaikat (asal kejadian, tugas dan hakikat malaikat).
Salawat serta sslam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad
SAW, yang kita nanti-nantikan syafaatnya di Yaumul Qiyamah nanti. Amiin
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan tugas mata kuliah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kami , umumnya bagi siapa saja yang membaca. Amiin
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekhilafan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik guna
memperbaiki makalah kami selanjutnya.
Salatiga, September 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………….
DAFTAR ISI……………………………………………………………………
BAB I:
PENDAHULUAN………………………………………………….......
A. Latar Belakang………………………………………………………….
B. Rumusan Masalah………………………………………………………
C. Tujuan…………………………………………………………………..
BAB II: PEMBAHASAN………………………………………………………
A. Hijrah ke Habsyi………………………………………………………
B. Hijrah ke Thaif…………………………………………………………
C. Hijrah ke Yastrib………………………………………………………
BAB III: PENUTUP…………………………………………………………….
A. Kesimpulan……………………………………………………………...
B. Saran…………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Orang-rang musyrikin semakin brutal
dan kejam dalam menyakiti dan menyiksa kaum muslimin. Intimidasi dan siksaan
yang mereka lakukan tak terbendung lagi. Mereka menyakiti kaum muslimin dengan
pukulan, pemboikotan pangan, siksaan di bawah terik matahari bahkan pembakaran
dengan api untuk satu tujuan yaitu agar agar orang muslimin keluar dari agama
islam. Di antara mereka ada yang tak kuasa terhadap siksaan fisik, namun hati
mereka tetap kokoh pada keimanan. Ada pula di antara mereka yang kuat agamanya
dan Allah memberikan pemeliharaan kepada mereka. Ketika siksaan dan gangguan
semakin berat maka Nabi Muhammad memerintahkan para sahabat untuk berhijrah.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang
terjadi ketika hijrah ke Habsyah?
2.
Apa yang
terjadi ketika hijrah ke Thaif?
3.
Apa yang
terjadi ketika hijrah ke Yastrib?
C.
Tujuan Masalah
1.
Mengetagui apa
yang terjadi ketika hijrah ke Habsyi.
2.
Mengetagui apa
yang terjadi ketika hijrah ke Thaif.
3.
Mengetagui apa
yang terjadi ketika hijrah ke Yastrib.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
HIJRAH KE
HABSYAH (ETHIOPIA)
1.
Sebab-Sebab
Hijrah ke Habsyah yang Pertama
Orang-rang musyrikin semakin brutal
dan kejam dalam menyakiti dan menyiksa kaum muslimin. Intimidasi dan siksaan
yang mereka lakukan tak terbendung lagi. Mereka menyakiti kaum muslimin dengan
pukulan, pemboikotan pangan, siksaan di bawah terik matahari bahkan pembakaran
dengan api untuk satu tujuan yaitu agar agar orang muslimin keluar dari agama
islam. Di antara mereka ada yang tak kuasa terhadap siksaan fisik, namun hati mereka
tetap kokoh pada keimanan. Ada pula di antara mereka yang kuat agamanya dan
Allah memberikan pemeliharaan kepada mereka.
Pada suatu hari, sang musuh Allah
yaitu Abu Jahal lewat dan mendapati Samiyah ibunda Ammar bin Yasir, suami dan
puteranya tengah disiksa. Abu Jahal menghampiri wanita malang itu lalu menikam
kemaluannya dengan menggunakan tombak hingga tewas seketika.
Ketika melewati beberapa budak yang
sedang disiksa dengan sangat biadab, Abu Bakar merasa sangat kasihan. Kemudian
Ia memerdekakan beberapa di antara mereka. Beberapa budak tersebut ialah
sahabat Bilal bin Rabbah, Amir bin Fuhairah, Ummu Ubais, Zanirah, Nahdiyah
beserta puterinya dan seorang budak perempuan milik Bani Adiy yang disiksa oleh
Umar (sebelum masuk islam).
Menyaksikan semua penindasan ini,
sementara Rasulullah tidak kuasa untuk menghalaunya, beliau bersabda kepada
para sahabat, “Sekiranya kalian pergi berhijrah ke Habsyah, sesungguhnya disana
terdapat seorang raja yang tidak akan menzalimi orang yang meminta perlindungan
kepadanya. Itulah negeri yang baik. (Berhijrahlah) sampai Allah menjadikan bagi
kalian jalan keluar dari apa yang kalian rasakan saat ini.”
Maka untuk menghindaripenindasan dan
intimidasi karena semakin banyaknya kaum muslimin, maka berangkatlah kaum
muslimin yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang perempuan, yang
dipimpin oleh Usman bin Affan. Maka peristiwa ini merupakan hijrah yang pertama
dalam islam.
2.
Peristiwa
Hijrah ke Habsyah yang Pertama
Para sahabat Rasulullah meninggalkan
Makkah pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian. Mereka berangkat dengan cara
sembunyi-sembunyi. Ketika tiba di pantai, ada dua kapal dagang yang mengangkut
mereka ke negeri Habsyah. Mengetahui hal itu orang kafir Quraisy berusaha
mengejar merekahingga tepi laut. Akan tetapi mereka terlambat sehingga tidak
mendapati apa-apa.
Maka tatkala kaum muslimin tiba di
Habsyah, raja Najasyi menyambut baik dan hangat kedatangan mereka. Menempatkan
mereka ditempat yang pantas, sehingga kaum muslimin merasakan ketenangan dan
keamanan. Mereka dapat beribadah kepada Allah dengan tenang tanpa ada yang
menyakiti.
Tiga bulan setelah dimulainya
hijrah, kaum muslimin hidup dengan berbagai perubahan yang terjadi di makkah.
Lahirlah di tengah-tengah kaum muslimin suatu keinginan kuat untuk menyebarkan
dakwah di Makkah, dimana pada saat itu Hamzah bin Abdul Mutholib (paman
Rasulullah) dan Umar bin Khattab menyataka keislamannya. Pada saat itu Hamzah
merupakan kaum muda Quraisy yang sangat disegani sedangkan Umar orang yang
sangat tegas dan ditakuti. Karenanya, saat Hamzah dan Umar masuk islam kaum
Quraisy segera menyadari bahwa Rasulullah semakin mendapat dukungan dan
perlindungan. Maka mereka berangsur menghentikan beberapa kekerasan yang
sebelumnya biasa mereka lakukan. Mereka mulai dapat sholat langsung di depan
Ka’bah
Tentu semua berita baik itu sampai
kepada mereka yang sedang di tanah rantau dan mereka sangat gembira akan
perubahan kampung halaman. Karenanya tidak heran jika kerinduan akan kampung
halaman kian terasa, jiwa mereka merindukan tanah Makkah tempat sanak saudara
mereka berkumpul. Maka mereka pun kembali ke Makkah dalam suasana dan kondisi
yang baru dan lebih memiliki keberanian. Mereka percaya dengan adanya kekuatan
baru dari Hamzah dan Umar akan membawa kemuliaan dan kekuatan kaum muslimin.
Jiwa mereka tertarik kuat untuk selalu berada di bawah naungan Ka’bah.
Akan tetapi kaum Quraisy berusaha
memberikan perlawanan baru atas keislaman Hamzah dan Umar. Dari satu sisi
mereka mengerahkan jurus makar-makar terbaru dan dari sisi lain mereka kembali
melakukan kekerasan. Mereka menambah amunisi untuk melawan Rasulullah dan para
sahabatnya. Amunisi baru yang dimaksud adalah pemberlakuan boikot ekonomi atas
kaum muslimin, yang berisi sebagai berikut:
a.
Muhammad dan
kaum keluarganya serta kaum pengikutnya tidak diperkenankan menikah dengan
orang –orang Quraisy yang lain, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.
b.
Kaum Quraisy
tidak diperkenankan berjual beli barang apa saja dengan Muhammad dan
keluarganya serta pengikutnya.
c.
Kaum Quraisy
tidak diperkenankan memjalin persahabatan atau pergaulan dengan Muhammad dan
keluarganya serta pengikutnya.
d.
Kaum Quraisy
tidak diperkenankan mengasihi dan menyayangi Muhmmad dan kaum keluarganya serta
pengikutnya.
e.
Undang-undang
yang telah ditetapkan ini, sesudah ditulis dan digantungkan di dalam Ka’bah,
ditetapkan sebagai undang-undang suci kaum Quraisy dan keluarga Muhammad serta
pengikutnya.
f.
Undang-undang
ini berlaku selama keluarga Bani Hasyim dan Bani Muthalib belum menyerahkan
Muhammad kepada kaum Quraisy untuk dibunuh. Bilamana Muhammad sudah diserahkan
kepada mereka, undang-undang ini tidak berlaku lagi.
3.
Peristiwa
Hijrah ke Habsyah yang Kedua
Dengan
diberlakukannya undang-undang pemboikotan tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada
kaum Muslimin supaya hijrah ke negeri Habsyah untuk yang kedua kalinya. Adapun
mereka yang pergi berhijrah berjumlah 101 orang yang terdiri atas 83 orang
laki-laki dan 18 orang perempuan. Yang menjadi kepala rombongan sekaligus
sebagai penanggungjawab atas segala sesuatu yang berkenaan dengan kaum
muhajirin ini ialah sahabat Ja’far bin Abi Tholib.
Keadaan kaum
imigran islam yang berada dalam suaka raja Najasyi benar-benar aman. Mengetahui
hal itu, orang-orang kafir Quraisy menyuruh Abdullah bin Rabi’ah dan Amr bin
Ash untuk mengejar mereka. Keduanya menemui raja Najasyi dengan membawa banyak
hadiah dan meminta kepada raja Najasyi supaya bersedia mengusir kaum imigran
muslim. Permintaan delegasi kaum Quraisy tidak langsung dikabulkan oleh raja
Najasyi. Raja yang beragama nasrani ini lantas memanggil Ja'far dan
rombongannya ke istana.
Di tempat
inilah dan di hadapan raja beserta para penasehat agamanya, Ja'far menjelaskan
maksud kedatangannya ke Habasyah. Putra Abu Thalib ini dengan tegas mengatakan
bahwa dia dan rombongannya, bukanlah budak yang lari dari tuannya atau pembunuh
yang lari dari tebusan darah. Mereka lari dari Mekah hanya untuk menyelamatkan
diri dari penyiksaan dan tekanan yang dilakukan para pemuka Quraisy terhadap
mereka. Mereka dianggap layak mendapat perlakuan buruk karena telah menyembah
Tuhan yang Esa dan menolak sujud kepada berhala.
Penjelasan
Ja'far bin Abi Thalib berhasil mematahkan makar utusan Quraisy. Raja Najasyi
memerintahkan untuk mengembalikan semua hadiah yang dikirim Quraisy kepadanya.
Utusan Mekah-pun meninggalkan negeri Habsyah. Untuk kaum muhajirin, raja
Najasyi memberikan izin tinggal di negerinya dengan aman dan damai sampai
kapanpun juga.
4.
Keadaan Nabi
Muhammad SAW. Selama Diboikot
Selama
pemboikotan yang berlangsung kurang lebih tiga tahun, Rasulullah dan kaum
keluarganya serta kaum muslimin yang tidak ikut ke negeri Habsyah mengalami
berbagai kesulitan dan kesengsaraan dalam hidupnya. Pada masa pemboikotan
mereka hanya memakan apa saja yang didapat dan berpakaian apa saja yang dapat
dikenakan.
Inilah
kesengsaraan dan kemiskinan yang diderita Rasulullah dan kaum muslimin pada
masa itu. Sungguh pun demikian, Rasulullah dan segenap kaum muslimin tetap
tenang serta teguh mengerjakan perintah-perintah Allah.
5.
Cerita tentang
rusaknya lembar pengumuman
Dalam masalah
pembuatan dan pemasangan lembar pengumumanaksi pemboikotan ini menjadi pro
kontra di kalangan kaum kafir Quraisy. Pihak yang kontra berusaha untuk
merobeknya.
Selanjutnya,
Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya atas nasib lembar pengumuman aksi
pemboikotan yang dilakukan kaum Quraisy. Allah mengirim rayap untuk memakannya
berikut semua tulisan yang berisi kedzaliman kecuali tulisan yang yang menyebut
nama Allah.
Rasulullah
memberitahukan hal tersebut kepada pamannya yaitu Abu Tholib. Abu Tholib
langsung menemui para pemuka kaum Quraisy dan berkata, “Jika ia dusta, aku akan
menyerahkan ia (Muhammad) kepada kalian. Terserah mu apakan ia. Dan jika ia
benar, kalian harus menghentikan tindakan kalian yang jahat dan semena-mena
ini.”
Mereka setuju,
kemudian menurunkan lembar pengumuman pemboikotan tersebut. Begitu dilihat
ternyata memang benar apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi mereka justru
bertambah kufur.
B.
HIJRAH KE THAIF
Peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke Thaif
terjadi pada tahun ke-10 Kenabian ketika para ketua dan pembesar musyrikin
Quraisy menyadari bahwa Nabi tidak mempunyai tulang punggung yang dapat
melindungi beliau apabila disakiti dan dianiaya atau diperlakukan dengan kejam
karena orang yang beliau sayangi dan kasihi telah meninggal dunia, yaitu Abu
Thalib dan Khadijah sehingga disebut tahun kesedihan (Ammul Huzni), maka mereka
semakin menghalangi dan memusuhi beliau. Setiap hari, siang dan malam, beliau
tidak henti-henti menerima celaan, cercaan, penghinaan, dan perbuatan yang
menyakitkan dari para musyrikin Quraisy. Oleh sebab itu, teringat oleh beliau
bahwa di kota Thaif ada seorang yang masih termasuk keluarga dekat beliau dari
keturunan Tsaqif. Di kota Thaif, merekalah yang memegang kekuasaan. Ketika itu tinggal
tiga orang, yaitu: Kinanah yang bergelar Abdu Jaffi, Mas’ud yang bergelar Abdul
Kulal, dan Habib. Ketiganya adalah anak dari Amr bin Umair bin Auf ats-Tsaqafi
dan masing-masing memegang kekuasaan di kota Thaif.
Nabi
Muhammad memilih Thaifkarena Thaif adalah wilayah yang sangat strategis bagi
masyarakat Quraisy. Bahkan kaum Quraisy sangat menginginkan wilayah tersebut
dapat mereka kuasai. Sebelumnya mereka telah mencoba untuk melakukan hal itu.
Bahkan mereka melompat ke lembah Wajj. Hal demikian lantaran Thaif memiliki
sumber daya pertanian yang sangat kaya. Hingga akhirnya orang-orang Tsaqif
takut kepada mereka dan mau bersekutu dengan mereka. Bergabung pula bersama
mereka Bani Daus.[4] Tidak sedikit dari orang-orang kaya di Makkah yang
memiliki simpanan harta di Thaif. Disana juga mereka mengisi waktu-waktu rehat
pada musim panas. Adapun Kabilah Bani Hasyim dan Abdu Syam senantiasa menjalin
komunikasi baik dengan orang-orang Thaif. Pergerakan dakwah yang penuh strategi
yang dijalankan oleh Rasulullah ini sebagai bentuk upaya beliau, antusias
beliau, untuk mendirikan negara Islam tangguh yang sanggup bertahan dalam arena
pertarungan. Karena, sesungguhnya suatu negara yang kuat merupakan fasilitas
dakwah yang teramat penting dan utama. Maka tatkala beliau tiba di Thaif,
beliau langsung menuju pusat kekuasaan, tempat diputuskannya suatu ketetapan
politik di Thaif.
Nabi
SAW berharap apabila beliau datang ke Thaif dan bertemu dengan mereka, mereka
bisa mengikuti seruannya dan ikut serta menggerakkan dakwah beliau di kota itu.
Dengan demikian, penduduk kota itu akan segera mengikuti seruan beliau dan
selanjutnya mereka dapat memberi bantuan untuk kepentingan penyiaran Islam di
kota Mekah. Dengan tidak berpikir panjang, Nabi saw berangkat ke Thoifsecara
diam-diam bersama Zaid bin Haritsah (bekas budak Khadijah yang telah diangkat
sebagai anak beliau)dengan berjalan kaki.
Setiba
Nabi saw. di Thaif bersama Zaid, beliau mencari tempat kediaman orang yang ditujunya,
yakni para pemimpin Bani Tsaqif yang sedang berkuasa disana. Beliau lalu
menyatakan maksud kedatangannya kepada mereka, yaitu selain hendak menyambug
tali kasih sayang dengan mereka dan mengekalkan persaudaraan dengan mereka
sepanjang adat istiadat bangsa Arab, beliau menganjurkan kepada mereka supaya
mengikut apa yang diserukannya.
Setelah mereka mendengar seruan beliau,
seketika itu penduduk Thaif yang bodoh marah, mencaci maki, dan mendustakan
beliau dengan perkataan-perkataan yang sangat kasar. Mereka mengusir beliau
dari rumah mereka dan pergi dari kota Thaif. Jika tidak, beliau diancam akan
dibinasakan saat itu juga.
Setelah
mendengar celaan, caci maki, dan ancaman mereka, beliau mohon diri seraya
berkata, “Jikalau kamu tidak sudi menerima kedatanganku ke sini, tidak mengapa.
Tetapi janganlah kedatanganku kemari disiarkan kepada penduduk kota ini.”
Beliau
tidak ingin hal tersebut terdengar oleh kaumnya sehingga akan memperunyam keadaan.
Karena dalam misinya ini, beliau berusaha melakukan serahasia mungkin, dan
tidak ingin tercium pergerakanya oleh kaum Quraisy, karena beliau sangat
memperhatikan hal-hal berikut ini:
a.
Saat berangkat
ke Thaif, beliau tidak menggunakan kendaraan, namun dilakukan dengan berjalan
kaki, agar orang Quraisy tidak mengira bahwa beliau akan keluar dari Makkah.
Sebab jika sampai beliau menggunakan kendaraan, mereka akan membaca bahwa
beliau sedang menuju suatu tempat tertentu, dan boleh jadi mereka akan melakukan
penghadangan dan pencekalan.
b.
Rasulullah
mengajak Zaid, anak angkat beliau dalam keberangkatan tersebut. Jika dicermati,
dengan memiih Zaid sebagai teman perjalanan, terdapat beberapa aspek keamanan
yaitu, jika orang melihat bahwa ada orang lain yang menemani keberadaannya,
tentunya mereka akan membaca bahwa Rasulullah tidak bergerak sendirian.
Disamping itu, beliau mengenal Zaid sangat dekat. Beliau percaya Zaid dapat
menjaga rahasia, karena dia adalah orang yang ikhlas, jujur, dan amanah. Dan
itulah yang ditampakkan Zaid tatkala beliau diserang dengan lemparan batu. Dia
dengan berani melindungi Rasulullah dengan mnjadikan dirinya sebagai perisai
beliau dari lemparan tersebut walaupun kepalanya harus cedera.
Tatkala
perlakuan para pemuka dan masyarakat Thaif sangat buruk kepada beliau. Beliau
dengan sabar menanggunnya, tidaklah beliau marah atau mendendam, namun beliau
hanya meminta agar mereka tidak menutupi semua kejadian ini. Inilah langkah
kerahasiaan yang sangat optimal. Sebab jika sampai orang Quraisy mengetahui hal
itu, tidak hanya mereka akan mencerca beliau, namun boleh jadi mereka akan
semakin keras dalam melakukan penindasan dan tekanan, maka semakin
terhalangilah semua gerakan beliau di dalam dan luar Makkah.[6]
1.
Berserah diri
dan berdoa kepada Allah
Sungguh, Bani Amr adalah orang-orang
yang tercela, bukannya menutupi peristiwa itu, mereka malah
membesar-besarkannya dengan melakukan aksi penyerangan kepada Rasul. Mereka
melempari beliau hingga berdarah-darah. Hingga akhirnya beliau dan Zaid terpojok
di perkebunan Atabah dan Syaibah.Keduanya adalah putra Rabi’ah yang sedang
berada di dalam kebun tersebut. Lalu setelah melihat kondisi yang demikian,
orang-orang Tsaqif yang semula mengejar beliau akhirnya kembali pulang. Lalu
beliau bersandar di salah satu batang anggur. Di sana beliau dan anak angkatnya
Zaid terduduk lemas, berusaha memulihkan tenaga dari apa yang baru saja
keduanya rasakan, dan kedua putra Rabi’ah si pemilik kebun melihat kepada
beliau dan Zaid. Keduanya pun menyaksikan dengan mata kepala apa yang diterima
Rasulullah dari keburukan orang-orang Tsaqif. Maka dalam kondisi yang lemah dan
tekanan psikis tersebut, beliau bermunajat kepada-Nya mengharap ridha-Nya
semata.
“Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan
kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan
manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Peindung
bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau
serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada
musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua
itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan
kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan
mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau
turunkan dan mempermasalahkan diriku. Engkau berkenan, sungguh tiada daya dan
kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu”[7]
2. Pertemuan Addas dengan Nabi Muhamad SAW
Utbah dan Syaibah yang sedang berada
di kebun itu selalu mengamati gerak-gerik Nabi dan Zaid. Keduanya pun
mengetahui bahwa kedua orang itu tengah menderita karena tampak oleh mereka
bahwa keduanya sedang terluka parah dan berlumuran darah. Timbullah rasa
kasihan mereka terhadap dri Nabi dan Zaid. Mereka lalu menyuruh bujangnya
bernama Addas supaya mengantar sepiring anggur kepada Nabi.
Addas adalah seorang pengikut agama
Nasrani. Ketika ia mendapat perintah dari tuannya supaya mengantar sepiring
anggur, ia segera mengambil buah dan diantarkannya kepada Nabi. Sebelum anggur
itu diantar, Addas dipesan oleh tuannya bahwa apabila anggur itu telah sampai,
Nabi segera dipersilakan memakannya. Pesan itu oleh Addas dipeerhatikan
benar-benar. Setelah sampai kepada Nabi saw, Addas mempersilahkan beliau untuk
segera memakanya. Sepiring anggur itu diterima Nabi saw dengan baik dan
sebagian anggur itu diberikan kepada Zaid lalu mereka segera memakannya. Ketika
hendak memakannya mereka membaca bismillah.
Addas selalu memperhatikan
gerak-gerik Nabi saw. dari jauh, Utbah dan Syaibah memperhatikan juga. Sesudah
Nabi dan Zaid memakan buah anggur tadi, Addas lalu bertanya kepada Nabi tentang
kalimat yang dibaca oleh beliau ketika makan.
Beliau bertanya, “dari negeri apakah
engkau wahai Addas? Dan apa agamamu?” dia menjawab, aku seorang Nasrani dan aku
adalah seorang yang berasal dari negeri Ninawa.”
Rasul bertanya lagi, “ apakah dari
desa seorang lelaki yang shaleh bernama Yunus bin Mata?”
Addas menjawab, “ apa yang engkau
ketahui tentang Yunus bin Mata?”
Beliau bersabda, “dia adalah
saudaraku, dia seorang Nabi dan aku pun seorang Nabi.”
Lalu Addas langsung memeluk
Rasulullah, mencium tangan dan kakinya. Melihat tingkah Addas, kedua putra Rabi’ah
yang merupakan majikannya berkata antara satu dengan yang lainnya, “budakmu
telah dirusak di hadapanmu.”Maka ketika Addas datang kembali kepada majikannya,
keduanya berkata,”celakalah engkau wahai Addas, mengapa engkau tadi mencium
kepada tangan dan kaki lelaki itu?”
Addas menjawab,”wahai tuanku, tidak
ada di muka bumi ini yang lebih baik dari lelaki ini. Sungguh dia telah
menyampaikan kepadaku tentang suatu perkara yang tak seorang pun mengetahuinya
selain aku.”
Keduanya berkata, “celakalah engkau,
jangan sampai dia membuatmu berpaling dari agamamu, sesungguhnya agamamu lebih
baik daripada agamanya.”
Keteladanan terkait dengan kesabaran
Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa hijrah ke Thaif dan Habsyah
Nabi Muhammad Saw adalah seorang
manusia yang mulia pilihan Allah SWT. Tak salah jika perkataan dan perbuatannya
dijadikan sebagai teladan oleh umat Islam dalam kehidupan manusia. Sikapnya
yang lembut dan tak pendendam menjadikan ciri suri tauladan yang dicontohkan
beliau. Rasulullah juga selalu tenang dan tidak gegabah dalam menjalankan suatu
misi atau peperangan untuk menyiarkan agama Islam.
Begitu juga ketika Rasulullah
melakukan hijrah ke negeri Habsyah dan Thaif. Beberapa teladan yang dapat
dipetik dalam peristiwa tersebut adalah diantaranya:
Tidak mengandalkan keajaiban di luar
kemampuan manusia biasa. Apa yang dapat dilakukan diperhitungkan dengan matang.
Sabar dalam menghadapi setiap musuh
yang menghadang beliau.
Tidak membalas kekerasan yang
dilakukan oleh musuh.
Hijrah Rasulullah Saw dilakukan semata-mata
hanya untuk menyiarkan agama Islam.
Tawakal selalu melekat dalam hatinya
dalam menghadapi segala masalah.
C.
Hijrah Ke
Yastrib
1.
Tahun Pertama
di Yastrib
Ketika kembali ke yatsrib diutuslah Mus’ab bin Umair untuk bisa
membacakan al-qur’an dan memahamkan
agama islam. Mus’ab tinggal dirumah Abu umamah as’ad bin zurarah Pemimpin dari kabilah aus yakni sa’ad bin
mu’ad menganggap as’ad dan mus’ab datang untuk membodoh-bodohi kaumnya usaid.
Usaid mengambil tombak lalu menemui mereka berdua. As’ad berkatakepada Mus’ab
agar mempercayakan segala urusan kepada Allah. Usahid berdiri dihadapan mereka
dan menanyakan apa yang membawa mereka datang ?apakah untuk membodohi kaumnya
usaid? Mus’ab mengajak usaid duduk dan menyatakan bahwa jika usaid ridho
terhadap urusannya maka terimalah jika tak suka mus’ab dan as’ad akan menjauh.
Mus’ab menjelaskan kepadanya tentang al islam dan membacakannya kepada
alqur’an. Usaid merasakan indahnya agama islam dan memeluk serta bersyahadat
dengan benar disusul kemudian sa’ad bin mu’ad. Maka tidaklah pada hari itu kaum
laki-laki maupun perempuannya telah menjadi muslim dan muslimah kecuali al
usairim, ia menagguhkan keislamannya hingga peristiwa uhud dan terbunuh sebagai
syahid di jalan Allah sebelum sempat bersujud kepada Allah. Mus’ab bin umair
kembali kemakkah dengan kabar gembira berupa keberhasilan dakwahnya itu.
2.
Yatsrib
Menyambut Muhajir Agung
Penduduk Yastrib
pria, wanita
berbondong-bondong ke luar rumah menyambut kedatangan
Muhammad . Mereka menantikan kedatangan
beliau sejak tersiar kabar bahwa
junjungan telah berangkat hijrah drai makkah . Mendengar
kabar bahwa kaum quraisy terus
mengejar dan mencarinya untuk
membunuhnya , juga kabar
bahwa beliau menempuh
perjalanan yang berat dan penuh rintangan itu
dengan sangat tabah . Nabi
mengarungi bukit berbatu
dan padang pasir
di tengah-tengah dataran
Tihamah orang memantulkan panas
terik matahari. Para
penduduk yastrib keluar
terdorong ingin mengetahui berita tentang dakwah islam yang
sudah tersiar di seluruh jazirah arab dan mengikis kepercayaan lama yang
diwarisi nenek moyang mereka.
Mereka keluar bukan hanya didorong dua alasan itu,
melainkan lebih jauh lagi . Setiap golongan dan setiap kabilah di yastrib
memiliki kepentingan sendiri berkaitan dengan kedatangan Rosululloh di kota
itu, baik dari sisi politik maupun sosial. Hal inilah yang lebih besar
mendorong mereka menyambut kedatangan
Rosululloh daripada ingin melihat
dan bertemu dengan beliau.
Demi alasan itu kaum musyrik dan
kaum yahudi bersama-sama kaum muslim – muhajirin dan
anshar menyambut kedatangan Nabi. Mereka terus
mengikuti Rosululloh ketika
melepaskan kekang untanya dan membiarkan unta itu berjalan sekehendaknya sendiri meskipun hewan itu agak kesulitan berjalan
karena jalan begitu sesak dipenuhi manusia yang ingin memandangi wajah beliau.
Semua orang berkerumun dengan pandagan mata
mengarah pada sosok yang
gambarannya terlukis dalam
jiwa , orang-orang menyaksikan
Baiat aqabah dari penduduk
kota untuk membela dan melindungi sampai mati dari
bahaya dan ancaman apapun, termasuk
kejahatan kaum quraisy. Beliau melakukan demi keimanannya pada Allah yang
didasari terhadap alam semesta dan
penyingkapan berbagai hakikat dan rahasianya.
3.
Pembangunan
Masjid dan Rumah Rasulullah
Unta yang dinaiki Nabi berlutut
ditempat penjemuran kurma milik Sahl bin Suhail ibnu Amr, tempat itu dibelinya
dan dibangun sebuah masjid diatasnya. Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub
Khalid ibnu Zaid Al Ansyari. Pembangunan masjid bersama kaum muslim dari
Muhajirin dan Anshar. Selesai masjid dibangun, disekitarnya dibangun pula
tempat tinggal Rasulullah.
Masjid itu berupa sebuah ruangan dengan
keempat dindingnya terbuat dari tumpukan batu bata dan tanah. Atapnya berupa
anyaman daun kurma dan dibiarkan terbuka dengan salah satu bagian lagi
digunakan sebagai tempat tinggal orang fakir yang tidak punya rumah.
4.
Jaminan
Kebebasan Beragama
Selesai
membangun masjid dan tempat tinggal, Rasulullah pindah dari rumah Abu Ayyub ke
rumahnya. Rasulullah mulai memikirkan langkah-langkah baru dalam menata
komunitas muslim berkembang lebih baik dan lebih maju. Rasulullah melihat kota
itu terdiri dari berbagai suku dan kelompok yang berbeda-beda, situasi yang
tidak ditemukannya di Makkah.
Suku itu
merindukan kehidupan yang damai dan tentram, Nabi ingin Yastrib membawa
ketentraman bagi penduduk masa depan, tujuan utama Rasulullah melangsungkan dan
mengembangkan risalah yang diamanatkan Allah kepadanya. Selama tiga belas tahun
Rasulullah berdakwah menyeru keluarganya dan kaumnya kepada islam, menyembah
Allah Yang Esa dan meninggalkan segala tuhan selain Dia. Risalah yang
disampaikan di Yastrib sama dengan risalah yang diserukan kepada penduduk
Makkah. Karena mengkhawatirkan penganiayaan dan kekerasan kaum Quraisy, risalah
itu tidak sampai menyentuh hati semua penduduk Makkah. Segala penganiayaan dan
tindakan kekerasan itu, menjadi perintang antara keimanan dan hati manusia yang
belum mau menerimanya.
Rasulullah
ingin meyakinkan penduduk Yastrib, siapapun yang menerima bimbingan Allah dan
masuk ke dalam agamaNya pasti akan terlindung dari segala gangguan. Bagi orang
beriman, keyakina itu akan membuat imannya makin kokoh, sedangkan orang yang
amsih ragu-ragu, takut, atau lemah, kayakinan itu akan mendorongnya segera
menerima keimanan.
Seluruh
tujuannya adalah memberikan rasa tenang kepada semua orang untuk menganut
ajarannya dan memberikan kebebasan kepada mereka untuk menjalankan agama
masing-masing. Kebebasan yang akan menjamin dunia ini mencapai kebenaran dan
kemajuan serta kesatuan yang damai dan terhormat.
5.
Kedamaian
Sebagai Pondasi Komunitas Madinah
Nabi sangat
mendambakan perdamaian dan tidak menyukai peperangan. Ia sangat berhati-hati
dan tidak ingin menempuh jalan kekerasan, kecuali terpaksa demi membela
kemerdekaan, agama, dan kepercayaan.
Perang hanya boleh dilakukan untuk
mempertahankan diri dan menangkis serangan pihak yang menyerang. Visi yang dimiliki
Muhammad disambut baik oleh semua kalangan. Penduduk Yastrib terdiri atas kaum
muslim Muhajirin dan Anshar, orang musyrik dari suku Aus dan Khazraj yang tetap
berhubungan baik dengan kaum muslim dan kaum Yahudi.
Karena ukhuwah islamiyah ditanamkan
Rasulullah, Muhajirin dan Anshar memiliki hubungan yang erat dan padu.
Kekhawatiran Muhammad belum sepenuhnya hilang, beliau memikirkan langkah dan
strategi untuk menghilangkan keraguan itu. Langkah pertama untuk menyatukan
Muhajirin dan Anshar itu menentukan keberhasilan berikutnya. Golongan musyrik
dari suku Aus dan Khazraj, merasa lemah ditenga-tengah kaum Muslim dan Yahudi.
Mereka mencari cara agar kedua golongan berseteru. Kaum Yahudi menyambut baik
kedatangan Muhammad, agar beliau bisa diminta bantuannya untuk menyatukan
Jazirah Arab. Dengan demikian, mereka dapat membendung laju ajaran kristen yang
telah mengusir Yahudi dari Palestina. Jadi, masing-masing menerima dan
bergabung dalam komunitas yang dibangun oleh Muhammad dengan alasan dan motif
yang berbeda-beda.
6.
Persaudaran
Kaum Muslim
Tujuan pokok yang
ingin dicapai Rasulullah di Yastrib sehingga tokoh meletakkan dasar
kesatuan politik dan organisasi yang belum dikenal diseluruh wilayah Hijaz
sebelumnya itu, meskipun di Yaman sudah dibangun jauh sebelum itu. Rosulullah
bermusyawarah dengan Abu bakar dan Umar, mereka menghasilkan beberapa
keputusan.
Pertama , menyusun barisan kaum
muslim dan mempererat persatuan mereka menghilangkan segala kemungkinan yang
akan memicu perseteruan,Nabi mengajak kaum muslim supaya masing-masing memil
saudara karena Allah.
Rosulullah mempersaudarakan setiap
muhajirin yang telah menetap di Yastrib
layaknya persaudaraan sedarah ,senasib.
Kaum Anshar memperlihatkan keramahan
dan kecintaan luar biasa kepada saudara
mereka dari kalangan Muhajirin,sebab mereka telah meninggalkan makkah ,rumah ,
dan semua harta kekayaan, mereka mempertahankan keimanan. Memasuki madinah,
sebagian besar mereka nyaristidak
memiliki makanan , para Muhajirin bukan berasal dari golongan kaya kecuali
Utsman ibn affan. Sebagian lainnya hanya bisa membawa sedikit harta dan
perbekalan.
Suatu hari Hamzah menemui Rosulullah
meminta makanan. Abdurrahman Ibn Auf yang bersaudara dengan Sa’ad al-arabi
sudah tidak punya apa-apa lagi ketika tiba di yastrib. Ketika Sa’ad menawarkan
hartanya akan dibagi dua, Abdurrahman menolak. Ia minta ditunjukkan jalan
menuju pasar , disana ia mulai berdagang mentega dan keju. Karena kecakapannya
ia mendapatkan kekayaan kembali, dan dapat pula memberikan mas kawin kepada
salah seorang wanita Madinah. Ia memiliki beberapa kafilah dagang yang pergi
pulang membawa aneka komoditas.
Abu Bakar, Umar, Ali bin Abu Thalib,
dan lain-lain. Mencari mata pencaharian dengan bertani, atau menggarap tanah
milik orang Anshar. Ada juga beberapa selain mereka yang masih tetap harus
menghadapi kesulitan hidup. Mereka ini tidak mau menjadi beban orang lain.
Dalam bekerja itu, mereka dapat merasakan kepuasan batin yang tidak pernah
mereka rasakan selama di Makkah.
Disamping itu, sekelompok orang Arab
datang ke Madinah lalu menyatakan masuk Islam, dalam keadaan miskin dan
kekurangan. Ada yang tidak punya tempat tinggal. Rasulullah menyediakan tempat
di serambi masjid atau shuffah. Orang-orang ini disebut ahlu shuffah (penghuni
serambi). Kebutuhan mereka diambil dari harta kaum muslim, baik Muhajirin
maupun Anshar yang memiliki keluasan rezeki.
7.
Kasih Sayang
Muhammad
Rasulullah membangun dasar
organisasi politiknya membentuk pakta perjanjian bersama kaum Yahudi yang
menjamin kebebasan dan persekutuan yang kuat. Nabi berbicara dengan para pemuka
mereka, lalu mengikat mereka dengan tali persahabatan, dengan pertimbanagan
bahwa mereka juga ahli ktab dan kaum monotheis.
Baitul Maqdis merupakan pusat perhatian
kaum yahudi tempat berkumpul Bani Israil. Persahabatan Nabi dengan kaum yahudi
semkin hari semakin erat dan dekat. Orang begitu mulia, rendah hati, penuh
kasih sayang, memenuhi janji, pemurah, sangat dekat dengan kalangan miskin dan
menderita telah merubah Yastrib menjadi kota berwibawa. Perjanjian merupakan
suatu dokumen politik pantas dikagumi sepanjang sejarah.
Sebelum Muhammad ada Nabi Isa, Nabi
Musa, mereka terbatas dalam urasan dakwah agama. Mereka membela kebebasan orang
yang sudah beriman dengan kekuatan senjata dan jalan peperangan. Penyebaran
Islam dan kemenangan menjalankan misi kebenaran berada ditangan Muhammad.
Muhammad adalah orang besar dan lambang kesempurnaan manusia. Orang beriman
tidak boleh mebiarkan seseorang menanggung beban hidup dan utang berat diantara
sesama.
Orang beriman dan bertakwa melawan
orang yang melakukan kejahatan, gemar melakukan kezaliman, kejahatan,
permusuhan, atau kerusakan diantara orang beriman sendiri dan sama-sama
melawannya meskipun terhadap anak mereka sendiri. Orang beriman hendaknya
menolong satu sama lain. Orang beriman saling membela terhadap sesamanya yang
telah wafat di jalan Allah.
Orang beriman menentang pembunuh dan
tidak dibenarkan berdiam diri. Seseorang beriman telah mengakui dan percaya kepada
Allah dan kepada hari kemudian maka tidak dibenarkan menolong pelaku kejahatan
atau membelanya.
Seseorang tidak boleh dirintangi
dari haknya. Barangsiap diserang, dirinya atau keluarganya, maka mereka harus
melindungi diri, kecuali jika ia berbuat dzalim. Jika berbuat dzalim, Allah
yang menentukan.
8.
Pernikahan
Muhammad dengan Aisyah
‘Aisyah tinggal dirumah disamping
rumah Saudah di sisi masjid. Melihat Muhammad seorang ayah penuh kasih dan
suami yang penuh cinta. Situasi sosial politik di Yastrib benar-benar kondusif
dan tenang. Ia dapat merancang langkah-langkah untuk membangun komunitas muslim
lebih maju.
9.
Seruan Untuk
Sholat
Ketika Rasulullah menetap di Madinah
waktu shalat sudah tiba, lalu terpikirkan untuk memanggil orang hendak
mendirikan shalat mempergunakan terompet. Nabi mempergunakan lonceng akan
dipukul ketika waktu shalat tiba sebagaimana yang dilakukan orang kristen.
Perintah Allah melalui wahyu
penggunaan lonceng dibatalkan dan diganti dengan adzan. Rasulullah memanggil Abdullah ibnu Zaid
Ta’labah dan berkata, “Pergi dan temuilah Bilal, suruh ia menyerukan adzan
karena suaranya lebih merdu daripada suaramu.” Bilal menggemakan suaranya ke
penjuru hingga menyentuh telinga setiap pendengarnya. Mereka telah merasakan
kebebasan beragam ditetapkan islam dan sesungguhnya agama hanya untuk Allah.
Kesuksesan dakwah islam didukung
keindahan dan keistimewaan pribadi rasulullah menjadi teladan tertinggi bagi
semua manusia.
10.
Persaudaraan
adalah Dasar Peradaban Islam
Persaudaraan umat manusia tidak
sempurna keimanan sebelum ia dapat mencintai saurdaranya seperti mencintai
dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah sangat murka kepada orang yang melanggar
janjinya sendiri. Muhammad adalah utusan Allah. Ia tidak mau menampakkan diri
dengan gaya orang berkuasa, atau raja, atau pemegang kekuasaan dunia. Nabi akan
duduk dimana saja ada tempat kosong.
Nabi orang yang sangat setia ketika
ada orang menyebut nama Khadijah, langsung terkenang masa-masa indah
bersamanya. Kebaikan dan kasih sayang Muhammad menjadi sendi persaudaraan islam
dan menjadi dasar peradaban umat manusia tidak terbatas sampai di situ. Kasih
sayang Rasulullah meliputi segala hal dan beliau selalu memberi perlindungan
kepada siapa saja yang memerlukannya.
11.
Persaudaraan,
Keadilan, dan Kasih Sayang
Cinta, kasih sayang, dan kelembutan
dikembangkan bukan karena lemah atau mudah menyerah. Persaudaraan Muhammad
dengan semua orang berhubungan dengannya smat-mata karena Allah.
Sifat-sifat mulia merupakan fondasi
utama pembangunan jiwa, mendasari kehendak bebas, dan mendorong setiap manusia
untuk mencari ridho Allah. Muhammad dan para sahabatnya hijrah dari Makkah
denga tujuan mereka tidak berada di bawah kekuasaan Quraisy dan jiwa mereka
tidak menjadi lemah. Kehidupan materi dapat menguasai diri kita meskipun
sebenarnya kita tak lagi memerlukan materi.
12.
Muhammad Sang
Zahid
Muhammad adalah contoh kekuatan jiwa
yang ideal. Karena sifat mulianya. Nabi bersikap sederhana dalam urusan
pakaian. Rasulullah memang menahan diri dari kenikmatan dunia tetapi tidak menyiksa
diri. Muhammad ingin memberikan teladan luhur kepada manusia dalam menghadapi
hidup. Islam menganjurkan umatnya untuk memberi maaf, rasa
kasih sayang hemndaklah dibangun dengan hati yang terbuka dan ikhlas untuk
mencapai kebaikan yang sesungguhnya.
13.
Polemik Antara
Muhammad dan Yahudi
Posisi kaum muslim di Madinah
bertambah kuat. Ternyata, posisi Muhammad jauh lebih kuat dari yang mereka
bayangkan semula dan ajarannya makin kokoh. Kaum muslim mulai menyadari keadaan
musuh mereka dan tujuan yang hendak mereka capai. Suaru hari, musuh-musuh duduk
di masjid dan berbicara sesama mereka dengan berbisik-bisik sehingga Nabi
meminta mereka dikeluarkan dari masjid dengan paksa. Namun, itu tidak membuat
jera untuk terus melakukan tipu muslihat dan berusaha menjerumuskan kaum
muslim. Ia mengingatkan bahwa islam telah mempersatukan dan membuat mereka
bersaudara dan saling mencintai.
14.
Pemindahan
Kiblat ke Ka’bah
Sesak menghadapi Muhammad dan para pengikutnya
makin bertambah kuat di Madinah, mereka merancang tipu daya dan gangguan
mengusir Muhammad keluar dari Madinah, dilakukan oleh kaum Quraisy terus
menekan dan mengusik Rasulullah. Beliau dan kaum muslim keluar meninggalkna
Makkah. Muhammad benar-benar seorang Rasul, ia mengikuti para nabi terdahulu
yaitu menetap di Baitul Maqdis.
Tujuh belas bulan tinggal di
Madinah, Allah menurunkan wahyu beisi perintah untuk menghadapkan kiblatnya ke
Masjidil Haram rumah Ibrahim dan Ismail.
15.
Pertemuan Tiga
Agama
Enam puluh ekor hewan tunggangan
diantara mereka ada pemuka kristen, sudah mempelajari dan menguasai seluk beluk
ajaran kristen. Datangnya utusan kristen pihak yahudi sepenuhnya menolak ajaran
Isa dan Muhammad. Muhammad mengajak orang kepada keesaan Allah dan kepada
kesatuan ruhani yang sudah diatur sejak zaman azali hingga akhir zaman abadi.
Rasulullah menyesalkan tindakan yang hendak menimbulkan keraguan mengenai
keEsaan Allah. Nabi menginagtkan mereka telah mengubah autentik dalam kitab
suci melalui jalan yang berbeda dari jalan para Nbai dan Rasul yang mereka
akui.
16.
Perenungan Kaum
Muslim tentang Kaum Quraisy dan Makkah
Peradaban batu pertama diletakkan
Muhammad dengan ajaran-ajaran dan diberikannya itu berkembang makin kokoh dan
maju. Dorongan itu adalah kenangan dan kerinduan terhadap kampung halaman,
tempat kelahiran, dan tempat mereka dibesarkan.
Islam memang melarang umatnya
memelihara kebencian dan permusuhan serta memerintahkan mereka menegakkan
persaudaraan. Mereka harus menjaga sikap utama yaitu membela diri, kehormatan,
kebebasan beragama dan tanah air. Muhammad mengadakan Bai’at Aqabah dengan
penduduk Yastrib. Tujuan politik Muhammad dan kaum Muslim diarahkan kelak kaum
Muslim dapat menaklukkan Makkah, menegakkan agama Allah dan terus menegakkan
dakwah.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sikap
kaum musyrikin yang semena-mena dan kejam terhadap kaum muslimin meyebabkan
Rasulullah tak kuasa melihat kaumnya ditindas kaum Quraisy. Pemboikotan dan
kekejaman yang dilakukan kaum Quraisylah faktor Rasulullah menyuruh kaumnya
untuk hijrah ke Habsyah pada tahun ke-5 Kenabiannya. Pemboikotan yang dilakukan
Rasulullah beserta kaum muslimin lain yang tidak ikut ke Habsyah mengalami
kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya memakan makanan seadanya dan
berpakaian apa yang dikenakannya saja. Di negeri Habsyah, kaum muslimin
diperlakuan begitu baik dengan rajanya yaitu Raja Najasyi. Walaupun Raja
Najasyi termasuk Nasrani, namun hatinya begitu lembut terhadap rakyatnya. Raja Najasyi
tidak pernah melakukan kekerasan maupun pilih kasih terhadapnya rakyatnya. Oleh
karena itu, kaum muslimin hidup begitu tenang dan damai untuk melakukan ibadah
di negeri Habsyah.
Setelah
mengalami beberapa kesengasaraan yang dilakukan kaum Quraisy, Rasulullah masih
mengalami kepedihan yang lain yaitu dengan meninggalnya istri beliau Khadijah
dan paman beliau Abu Thalib pada tahun ke-10 setelah Kenabiannya. Tahun inilah
yang disebut tahun kesedihan. Untuk mengurangi kesedihannya, Rasulullah
melakukan hijrah ke Thaif bersama anak angkatnya Zaid bin Haritsah. Selain itu
beliau juga akan berdakwah di negeri subur tersebut yang diperebutkan pihak
Quraisy untuk dikuasainya. Sesampainya di Thaif, Rasulullah dan Zaid disambut
dengan cercaan, hinaan, makian bahkan dilempari batu oleh masyarakat Thaif.
Mereka enggan menerima maksud kedatangan Rasulullah ke Thaif. Selain itu, Nabi
Muhammad juga melakukan Hijrah ke Yastrib.
DAFTAR PUSTAKA
Haikal Husain Muhammad.2015.Sejarah Hidup Muhammad.Mesir:
Pustaka Akhlak
Al-Mubarrakfurry,
Syafiyyur Rahman. 2006. Sirah Nabawiyah. Tegal: Ash-shaf Media.