Sejarah
Perkembangan Islam di desa Sukajadi Kecamatan Lemong
kabupaten Pesisir Barat Lampung
Islam adalah agama yang diturunkan
Allah kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi
pedoman hidup seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Sepeninggalan Nabi Muhammad Saw
tepatnya pada tahun 632 M silam, kepemimpinan islam tidak berhenti begitu saja.
Kepemimpinan islam diteruskan oleh para khalifah dan disebar luaskan keseluruh
penjuru dunia termasuk Indonesia. Hebatnya baru sampai abad ke-8 islam telah
menyebar hingga ke seluruh Afrika, Timur Tenggah, dan benua Eropa. Baru pada
dinasti ummayah perkembangan islam masuk ke Nusantara. Menurut para sejarawan,
pada abad ke-13 M islam masuk ke Nusantara yang di bawa oleh para pedagang muslim.
Sekitar tahun 1956, Islam masuk ke salah satu daerah
Indonesia yaitu tepatnya di desa Sukajadi, kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir
Barat, Lampung. Desa Sukajadi didirikan oleh sepasang kakak adik yang bernama Kakek
Daman (tahun wafat tidak diketahui) dan Kakek Sujari (wafat tahun 1997) yang
berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, yang sekaligus sebagai penyebar agama
Islam di desa tersebut.[1]
Desa Sukajadi adalah sebuah desa yang terletak di
kecamatan Lemong, kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Pesisir Barat adalah salah
satu kabupaten di Lampung yang berbatasan langsung dengan Bengkulu. Desa
Sukajadi merupakan sebuah desa yang bisa dikatakan masih pedalaman dan jauh
dari perkotaan, bahkan sampai saat ini listtrik pun belum masuk ke desa
Sukajadi.
Proses Islamisasi di desa Sukajadi sudah terjadi Kakek Daman (tahun wafat tidak diketahui) dan adiknya datang
dan mendirikan desa. Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara mengajak
warga masyarakat untuk beribadah. Kakek Daman dan Kakek Sujari juga mendirikan
masjid pada tahun 1982. Sebelum masjid tersebut selesai dibangun, warga
melakukan ibadah di surau kecil yang ada didesa Sukajadi. Setelah masjid
tersebut selesai didirikan barulah masjid tersebut digunakan sebagai tempat
ibadah dan diskusi masalah keagamaan lainnya. Masjid tersebut diberi nama
Masjid Al-Baqiatul Sholihah oleh Bapak K.H Ubad Efendi (wafat tahun 1992) yang
berasal dari Jakarta.[2]
Kemudian setelah Kyai Haji Ubad
wafat penyebaran Islam di desa Sukajadi diteruskan oleh Bapak Zainal Abidin (wafat
2017), Bapak Zainal Abidin adalah pendatang dari Pandeglang, Banten. Beliau
datang ke desa Sukajadi pada tahun 1987. Pada saat beliau datang ke desa
Sukajadi Islam di Sukajadi masih sangat memprihatinkan, pada saat itu desa Sukajadi
masih terkesan sangat angker karena di desa ini adzan masih jarang
dikumandangkan dan masjidnya pun tidak
terawat. Warga desa masih belum banyak mengerti tentang syariat Islam.
Masih banyak yang mabuk-mabukan dan jamaah setiap shalat Jum’at pun hanya
sekitar 7 orang saja, bahkan terkadang tidak ada yang datang untuk shalat.
Strategi dakwah yang Bapak Zainal Abidin lakukan adalah dengan dia melakukan
terlebih dahulu syariat-syariat Islam, sehingga warga sekitar mencontoh apa
yang beliau lakukan. Karena ketekunannya Islam di desa Sukajadi bisa berkembang
dan dijalankan sesuai dengan Al-Quran dan al-Hadist.
Dalam menyiarkan
agama Bapak Zainal Abidin dibantu oleh Bapak Rochimin yang berasal dari
Magelang, Jawa Tengah yang juga datang ke desa Sukajadi bersamaan dengan Bapak
Zainal Abidin. Mereka menyiarkan agama Islam dengan mengajakwarga untuk
berjamaah dan melakukan syariat-syariat Islam lainnya. Berkat kewibawaannya,
masyarakat dapat menerima dengan baik. Bahkan ada yang sampai menjadi seperti
saudara sendiri karena diingatkan masalah najis anjing oleh Bapak Zainal
Abidin. Dan sampai sekarang orang tersebut masih berhubungan baik dengan
keluarga Bapak Zainal Abidin.
Selain dengan
memberi contoh, bapak Zainal Abidin dan bapak Rochimin juga mendirikan Madrasah
Diniyah tepat di samping masjid. Madrasah tersebut digunakan untuk mengaji
anak-anak dan sebagai tempat jamaah Yasinan ibu-ibu sampai sekarang. Juga
tempat acara-acara keagamaan lainnya. Seperti buka bersama setelah shalat Iduel
Fitri, kajian rutin desa, dan lain sebagainya.[3]
Dalam tahun-tahun
penyiaran agama Islam bapak Zainal Abidin juga dibantu oleh anaknya bernama
Bapak Samsuri, yang pernah mengenyam pendidikan pesantren di Bogor, Jawa Barat
dan kembali ke desa Sukajadi pada tahun 2003. Kemudian pada tahun 2006 beliau
mendirikan pesantren putra dan diberi nama Pondok Pesantren Nurul Hidayah.
Muridnya pun terdiri dari beberapa desa tetangga.walaupun jarak antar desa
lumayan jauh, tapi murid-murid Bapak Samsuri sangat pandai,patuh terhadap guru
dan giat mempelajari agama.
Setelah bapak
Zainal Abidin meninggal, bapak Samsuri pindah ke daerah Mada, Lampung Selatan.
Selanjutnya penyiaran agama Islam dilanjutkan oleh bapak Rochimin dan adik
iparnya yang merupakan adik dari bapak Samsuri dan anak bungsu dari bapak
Zainal Abidin.[4]
Sampai saat ini
Islam di desa Sukajadi, kecamatan Lemong, kabupaten Pesisir Barat masih terus
dilakukan perbaikan. Walaupun belum 100% warga menjalankan syariat Islam dengan
baik, namun dapat dikatakan bahwa Islam di desa Sukajadi sudah dapat dikatakan
maju dan berkembang. Bahkan, dari 70 Kepala Keluarga yang ada di desa Sukajadi
dengan sekitar 300 jiwa semuanya memeluk agama Islam.
[1] Wawancara dengan ibu Siti Khodijah (34 tahun) pada tanggal 12
April 2018
[2] Wawancara dengan ibu Siti Zulaiha (42 tahun) pada 2 April 2018
[3] Wawancara dengan bapak Rochimin (42 tahun) pada 10 April 2018
[4] Wawancara dengan bapak Samsuri (44 tahun) pada 6 April 2018