Sabtu, 09 Juni 2018

Sejarah Perkembangan Islam di desa Sukajadi Kecamatan Lemong kabupaten Pesisir Barat

Sejarah Perkembangan Islam di desa Sukajadi Kecamatan Lemong kabupaten Pesisir Barat Lampung



Islam adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh umat manusia hingga akhir zaman.
Sepeninggalan Nabi Muhammad Saw tepatnya pada tahun 632 M silam, kepemimpinan islam tidak berhenti begitu saja. Kepemimpinan islam diteruskan oleh para khalifah dan disebar luaskan keseluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Hebatnya baru sampai abad ke-8 islam telah menyebar hingga ke seluruh Afrika, Timur Tenggah, dan benua Eropa. Baru pada dinasti ummayah perkembangan islam masuk ke Nusantara. Menurut para sejarawan, pada abad ke-13 M islam masuk ke Nusantara yang di bawa oleh para pedagang muslim.
Sekitar tahun 1956, Islam masuk ke salah satu daerah Indonesia yaitu tepatnya di desa Sukajadi, kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Desa Sukajadi didirikan oleh sepasang kakak adik yang bernama Kakek Daman (tahun wafat tidak diketahui) dan Kakek Sujari (wafat tahun 1997) yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, yang sekaligus sebagai penyebar agama Islam di desa tersebut.[1]
Desa Sukajadi adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Lemong, kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Pesisir Barat adalah salah satu kabupaten di Lampung yang berbatasan langsung dengan Bengkulu. Desa Sukajadi merupakan sebuah desa yang bisa dikatakan masih pedalaman dan jauh dari perkotaan, bahkan sampai saat ini listtrik pun belum masuk ke desa Sukajadi.
Proses Islamisasi di desa Sukajadi sudah terjadi Kakek Daman (tahun wafat tidak diketahui) dan adiknya datang dan mendirikan desa. Mereka menyebarkan agama Islam dengan cara mengajak warga masyarakat untuk beribadah. Kakek Daman dan Kakek Sujari juga mendirikan masjid pada tahun 1982. Sebelum masjid tersebut selesai dibangun, warga melakukan ibadah di surau kecil yang ada didesa Sukajadi. Setelah masjid tersebut selesai didirikan barulah masjid tersebut digunakan sebagai tempat ibadah dan diskusi masalah keagamaan lainnya. Masjid tersebut diberi nama Masjid Al-Baqiatul Sholihah oleh Bapak K.H Ubad Efendi (wafat tahun 1992) yang berasal dari Jakarta.[2]
 Kemudian setelah Kyai Haji Ubad wafat penyebaran Islam di desa Sukajadi diteruskan oleh Bapak Zainal Abidin (wafat 2017), Bapak Zainal Abidin adalah pendatang dari Pandeglang, Banten. Beliau datang ke desa Sukajadi pada tahun 1987. Pada saat beliau datang ke desa Sukajadi Islam di Sukajadi masih sangat memprihatinkan, pada saat itu desa Sukajadi masih terkesan sangat angker karena di desa ini adzan masih jarang dikumandangkan dan masjidnya pun tidak  terawat. Warga desa masih belum banyak mengerti tentang syariat Islam. Masih banyak yang mabuk-mabukan dan jamaah setiap shalat Jum’at pun hanya sekitar 7 orang saja, bahkan terkadang tidak ada yang datang untuk shalat. Strategi dakwah yang Bapak Zainal Abidin lakukan adalah dengan dia melakukan terlebih dahulu syariat-syariat Islam, sehingga warga sekitar mencontoh apa yang beliau lakukan. Karena ketekunannya Islam di desa Sukajadi bisa berkembang dan dijalankan sesuai dengan Al-Quran dan al-Hadist.
            Dalam menyiarkan agama Bapak Zainal Abidin dibantu oleh Bapak Rochimin yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah yang juga datang ke desa Sukajadi bersamaan dengan Bapak Zainal Abidin. Mereka menyiarkan agama Islam dengan mengajakwarga untuk berjamaah dan melakukan syariat-syariat Islam lainnya. Berkat kewibawaannya, masyarakat dapat menerima dengan baik. Bahkan ada yang sampai menjadi seperti saudara sendiri karena diingatkan masalah najis anjing oleh Bapak Zainal Abidin. Dan sampai sekarang orang tersebut masih berhubungan baik dengan keluarga Bapak Zainal Abidin.
            Selain dengan memberi contoh, bapak Zainal Abidin dan bapak Rochimin juga mendirikan Madrasah Diniyah tepat di samping masjid. Madrasah tersebut digunakan untuk mengaji anak-anak dan sebagai tempat jamaah Yasinan ibu-ibu sampai sekarang. Juga tempat acara-acara keagamaan lainnya. Seperti buka bersama setelah shalat Iduel Fitri, kajian rutin desa, dan lain sebagainya.[3]
            Dalam tahun-tahun penyiaran agama Islam bapak Zainal Abidin juga dibantu oleh anaknya bernama Bapak Samsuri, yang pernah mengenyam pendidikan pesantren di Bogor, Jawa Barat dan kembali ke desa Sukajadi pada tahun 2003. Kemudian pada tahun 2006 beliau mendirikan pesantren putra dan diberi nama Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Muridnya pun terdiri dari beberapa desa tetangga.walaupun jarak antar desa lumayan jauh, tapi murid-murid Bapak Samsuri sangat pandai,patuh terhadap guru dan giat mempelajari agama.
            Setelah bapak Zainal Abidin meninggal, bapak Samsuri pindah ke daerah Mada, Lampung Selatan. Selanjutnya penyiaran agama Islam dilanjutkan oleh bapak Rochimin dan adik iparnya yang merupakan adik dari bapak Samsuri dan anak bungsu dari bapak Zainal Abidin.[4]
            Sampai saat ini Islam di desa Sukajadi, kecamatan Lemong, kabupaten Pesisir Barat masih terus dilakukan perbaikan. Walaupun belum 100% warga menjalankan syariat Islam dengan baik, namun dapat dikatakan bahwa Islam di desa Sukajadi sudah dapat dikatakan maju dan berkembang. Bahkan, dari 70 Kepala Keluarga yang ada di desa Sukajadi dengan sekitar 300 jiwa semuanya memeluk agama Islam.


[1] Wawancara dengan ibu Siti Khodijah (34 tahun) pada tanggal 12 April 2018
[2] Wawancara dengan ibu Siti Zulaiha (42 tahun) pada 2 April 2018
[3] Wawancara dengan bapak Rochimin (42 tahun) pada 10 April 2018
[4] Wawancara dengan bapak Samsuri (44 tahun) pada 6 April 2018